Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 10 Agu 2018 15:27 WIB

Dari Era Soeharto sampai Jokowi Metode Hitung Kemiskinan Sama

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: dok detikfoto Foto: dok detikfoto
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan penghitungan angka kemiskinan di Indonesia sejak 1976 sampai saat ini masih menggunakan metodologi yang sama.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan metodologi penghitungan angka kemiskinan di Indonesia dengan basic needs approach atau berdasarkan kebutuhan dasar.

Suhariyanto menyebut, metode kebutuhan dasar masyarakat ini pun mengacu pada handsbooks poverty inequality yang diterbitkan oleh Bank Dunia.

"Jadi metodologinya sama sejak 1976 sampai sekarang, jadi metodologinya siapapun presidennya tidak pernah berubah," kata Suhariyanto saat berbincang dengan detikFinance, Jakarta, Jumat (10/8/2018).



[Gambas:Video 20detik]


Dia menjelaskan, angka kemiskinan per Maret 2018 sebesar 25,95 juta orang atau persentasenya 9,82% dari total penduduk Indonesia. Angka ini menjadi yang paling rendah sepanjang sejarah tanah air berdiri.

Untuk meluruskan perdebatan tentang angka kemiskinan, pria yang akrab disapa Kecuk ini pun mengaku sudah melakukan banyak hal. Mulai dari menjelaskan metodologi yang digunakan BPS, hingga menugaskan para pegawainya mengisi forum seminar untuk menerangkan angka kemiskinan dari hasil survei yang dilakukan.

"Saya juga sering muncul di mana-mana menjelaskan, mengklarifikasi apa yang dimaksud metode kebutuhan dasar. Tentunya ke depan sosialisasi itu perlu digencarkan," ungkap dia.

(hek/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed