Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 03 Nov 2011 11:12 WIB

Pemerintah Yakin Bisa Turunkan Rasio Utang Jadi 24%

- detikFinance
Jakarta - Pemerintah optimistis rasio utang terhadap PDB atau Debt to GDP Ratio di 2012 bisa mencapai 24% atau lebih rendah dari posisi saat ini yang mencapai 26%. Pemerintah di 2012 juga yakin mampu menghemat bunga utang Rp 900 miliar.

Wakil Menteri Keuangan Any Ratnawati menjelaskan turunnya debt to GDP ratio Indonesia didorong oleh dampak krisis global yang mengakibatkan harga beberapa komoditas turun.

"Implikasi krisis Eropa dan Amerika tidak hanya volume, tapi juga terlihat penurunan harga produk dunia. Kita lihat inflasi kita sudah mengalami deflasi karena turunnya harga emas dunia, karena turunnya harga yang lainnya," kata Any di sela Economic Outlook 2012 di Jakarta, Kamis (3/11/2011).

Menurutnya, penurunan harga komoditas karena adanya krisis global mengakibatkan adanya koreksi angka inflasi Indonesia menjadi lebih rendah. Maka, sambung Any, dirinya optimistis dapat melakukan penghematan sesuai dengan asumsi makro yang baru.

"Posisi utang negara-negara Yunani dan Eropa rata-rata debt to GDP diatas 100%. Kita berharap Indonesia debt to GDP Ratio akan menurun hingga angka 24 persen, kalau inflasi rendah, suku bunga rendah, bunga utang bisa kita koreksi, Maka kita akan penghematan Rp 900 miliar," jelasnya

Penghematan Rp 900 miliar, tambah Any, didorong oleh perubahan asumsi makro untuk yield (imbal hasil) Surat Perbendaharaan Negara (SPN) menjadi 6,40%.

Lebih jauh Any mengungkapkan penurunan ekonomi dunia akan terus terjadi sehingga Indonesia tetap harus waspada. "Namun fundamental kita kuat, tidak perlu khawatir namun tetap waspada," tambah Any.

Berdasarkan data kementerian keuangan, total utang pemerintah Indonesia hingga September 2011 mencapai Rp 1.754,91 triliun. Dalam sebulan jumlah utang itu naik Rp 10,57 triliun dibanding posisi Agustus 2011 yang sebesar Rp Rp 1.744,34 triliun.Berikut catatan utang pemerintah pusat dan rasionya terhadap PDB sejak tahun 2000:

  • Tahun 2000: Rp 1.234,28 triliun (89%)
  • Tahun 2001: Rp 1.273,18 triliun (77%)
  • Tahun 2002: Rp 1.225,15 triliun (67%)
  • Tahun 2003: Rp 1.232,5 triliun (61%)
  • Tahun 2004: Rp 1.299,5 triliun (57%)
  • Tahun 2005: Rp 1.313,5 triliun (47%)
  • Tahun 2006: Rp 1.302,16 triliun (39%)
  • Tahun 2007: Rp 1.389,41 triliun (35%)
  • Tahun 2008: Rp 1.636,74 triliun (33%)
  • Tahun 2009: Rp 1.590,66 triliun (28%)
  • Tahun 2010: Rp 1.676,15 triliun (26%)
  • September 2011: Rp 1.754,91 triliun (27,3%).


(dru/qom)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com