Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 09 Okt 2012 17:41 WIB

Rugi Rp 14 Miliar/Hari, G-Resources Rumahkan 900 Karyawan

- detikFinance
Jakarta - Terhambatnya pemasangan pipa air ke Sungai Batangtoru mengakibatkan, G-Resources Group Ltd melalui anak usahanya PT Agincourt terpaksa merumahkan 900 karyawan dan kontraktor.

Hal ini menyusul terjadinya penghentian operasional tambang emas ini sejak 19 September lalu, yang juga menimbulkan kerugian sangat berarti pada pendapatan harian dan pajak.

Presiden Direktur Tambang Emas Martabe Peter Albert menyataka menyesal atas kebijakan perseroan karena tidak punya pilihan selain harus merumahkan karyawan. Ia menambahkan walaupun untuk sementara ini pihaknya masih mampu menyediakan gaji pokok.

"Kami sungguh membutuhkan solusi nyata dalam beberapa hari ke depan agar kami bisa beroperasi kembali. Tanpa penuntasan pemasangan pipa, Tambang Emas Martabe tidak dapat beroperasi. Akibatnya tidak ada pemasukan untuk membayar gaji karyawan, biaya operasional, dan biaya terkait lain, termasuk program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Selasa (9/10/2012)

Tambang Emas Martabe mempekerjakan lebih dari 2.700 orang, 70% diantaranya berasal dari penduduk lokal Batangtoru, Tapanuli Selatan, Sumut dan sekitarnya. Ini adalah investasi terbesar di industri tambang selama sepuluh tahun terakhir, dengan total angka investasi, belanja modal, dan modal kerja perusahaan mendekati 900 Juta Dolar AS atau setara Rp 8,5 Triliun (1 Dolar AS = Rp 9.500) yang sebagian besar dibelanjakan di Indonesia.

Saat produksi penuh, potensi pendapatan yang diperoleh Tambang Emas Martabe (sebelum dikurangi biaya-biaya, pajak, royalti, dll.) mencapai 1,5 Juta dolar AS atau sekitar Rp 14,3 Miliar per hari - ini jumlah yang sedang terganggu saat ini.

Pemerintah Pusat seharusnya menerima lebih dari 30 persen dari keuntungan tambang dalam bentuk berbagai pendapatan pajak dan royalty; Pemerintah Propinsi Sumatra Utara dan Kabupaten Tapanuli Selatan memperoleh dividen dari lima persen saham tambang yang mereka miliki. Semua hitungan itu hilang akibat aksi penolakan yang menghambat jalannya pemasangan pipa air.

“Kami sangat yakin kesepahaman akan tercapai dan instalasi pipa tersebut bisa segera dibangun. Kami juga yakin pemerintah dan masyarakat Indonesia tidak akan bersedia kehilangan peluang pertumbuhan sosial dan ekonomi berarti yang bisa dipetik oleh masyarakat Tapanuli Selatan, Sumatra Utara dan Indonesia pada umumnya dari kehadiran Tambang Emas Martabe,” ujar Peter.

Pengaliran air ke Sungai Batangtoru ini sudah melalui studi kelayakan intensif dan mendapat ijin seperti tertera dalam dokumen AMDAL yang disetujui Bupati Tapanuli Selatan, Maret 2008.

Kelebihan air – sebagian besar diakibatkan tingginya curah hujan - akan diproses dalam Instalasi Pemurnian Air (atau Water Polishing Plant - WPP) yang telah dirancang dan dibangun di dalam areal Tambang Emas Martabe, dan memenuhi standar baku mutu berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 202/2004 sebelum dilepas kembali ke lingkungan.

“Ada informasi salah yang beredar di masyarakat mengenai air beracun dan isu lain terkait aliran air ke sungai yang akan mencemari lingkungan. Ini sama sekali tidak benar, Pemerintah Indonesia tidak akan pernah menyetujui dialirkannya air beracun, Tambang Emas Martabe pun tidak akan pernah mengambil langkah yang jelas-jelas akan berdampak negatif pada lingkungan. Kami sepenuhnya berkomitmen pada upaya pelestarian sosial dan lingkungan, beroperasi dengan standar tertinggi yang akan menjamin keuntungan bagi semua pemangku kepentingan,” katanya.

“Kami mohon ketegasan dan aksi nyata dari para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah untuk menjernihkan masalah ini, sehingga tidak membuka peluang pada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk semakin memperkeruh situasi. Karena pada akhirnya yang harus menanggung kerugian paling besar adalah masyarakat sendiri," katanya.

(rrd/hen)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com