Follow detikFinance
Senin, 23 Sep 2013 16:08 WIB

Bisnis Kelam Prostitusi India (4)

Lewat Film, Perempuan Ini Perjuangkan Kaumnya

- detikFinance
Leena Manimekalai Leena Manimekalai
Jakarta - Leena Manimekalai adalah figur marginal di negerinya sendiri, India. Dari sutradara berusia 33 tahun ini dunia melihat bagaimana perempuan diperlakukan. Dia menjadikan film sebagai aksi politiknya dan dengan itu dia dibenci serta ada filmnya yang dilarang beredar.

“Saya tahu pentingnya dibenci,” kata Manimekalai. Tapi dia bilang, melalui film garapannya, dunia mengetahui apa yang terjadi di India. Salah satunya adalah tentang bagaimana masyarakat negeri itu memperlakukan perempuan.

Pada 2001, Manimekalai tiba di Desa Mangattucheri di dekat Arokonam, Chennai. Dia merekam kehidupan komunitas Arundhatiyar yang 'mempersembahkan' kaum perempuannya menjadi Dewi Mathamma dalam sebuah film dokumenter 20 menitan bertajuk Mathamma.

Mathamma adalah 'dewi' yang hidup, dipilih dari perempuan berusia 7-13 tahun. Alih-alih disembah, Mathamma alias Ibu Suci itu menjadi budak seksual kaum lelaki yang menyetubuhinya untuk mendapatkan berkah.

Film itu langsung menuai protes. Kehidupan Manimekalai dan keluarganya terancam bahaya. Tapi melalui film ini Komisi Nasional Hak Asasi Manusia India mendapatkan bukti perlakuan tak manusiawi terhadap perempuan. Berikutnya, giliran polisi yang bertindak.

Film dengan tema sejenis kemudian dibesut lagi oleh Parthiban Shanmugam pada 2008. Film drama ini menceritakan kisah seorang perempuan bernama Meena yang dipaksa menjadi seorang Mathamma. Pada saat dewasa, Meena khawatir putrinya pun akan bernasib sama.

Kembali ke Manimekalai, dua tahun setelah memproduksi film Mathamma dirinya lalu menyoroti kasus kekerasan terhadap perempuan Dalit di Tamil Nadu, dalam dokumenter bertajuk Parai.

Dalit adalah kelompok penduduk India yang termarginalkan dalam kehidupan sosial. Meski terdiri dari berbagai kelompok sosial, Dalit atau kerap juga disebut Panchamas atau Asprushya, adalah masyarakat terpinggirkan yang terusir dari kastanya. Mereka direndahkan secara sosial.

Film dokumenter sepanjang 45 menit itu diprotes politikus setempat dan masyarakat dari kasta yang lebih tinggi. Tapi Manimekalai bergeming.

Dua dari beberapa filmnya di kemudian hari, masih tetap menyoroti soal kaum perempuan. Di antaranya adalah Altar, film tentang pernikahan bocah perempuan di komunitas Kambalathu Naicker di Tamil Nadu dan Goddesses, film tentang perempuan yang sukses berkarir di dunia yang amat berpihak kepada lelaki.

Bagi Manimekalai, film-film yang diproduksinya mengandung tiga dimensi. Pertama, dia memperlihatkan isu-isu yang ada di India, kedua komunitas lokal bercerita dan berpartisipasi dalam filmnya, serta ketiga, begitu film selesai, dia mempertontonkannya dan berdialog dengan audiensnya.

“Saya sudah membawa film-film saya ke lebih dari 400 desa, itu sangat penting,” kata peraih sejumlah penghargaan dari dalam dan luar negeri sebagai sutradara dan penyair ini.

Perhatiannya pada isu-isu marginal di India barangkali dilatari oleh masa lalunya. Manimekalai berasal dari desa tapi bernasib jauh lebih beruntung dari kebanyakan perempuan desa di India. Tumbuh di Maharapuram di selatan Madurai, dia dilahirkan dalam keluarga terpelajar.

Meski begitu, keluarganya pun tak bisa melawan tradisi kuno desa itu, bahwa seorang anak perempuan harus dinikahkan dengan paman kandungnya begitu dirinya puber. Manimekalai berhasil melawan tradisi itu dan berjanji menggapai pendidikan setinggi-tingginya.

Pada tahun akhir studinya, ayah Manimekalai wafat. Sang ayah rupanya bermimpi menerbitkan buku tesis doktoralnya tentang sutradara Tamil yang terkenal, P. Bharathiraja. Manimekalai yang berusia 20 tahun mencari Bharathiraja untuk menandatangani sampul buku ayahnya.

Yang terjadi setelah itu, Manimekalai jatuh cinta pada film dan Bharathiraja. Relasi itu ditentang keluarga. Ibunya sampai-sampai mogok makan. Akibatnya Manimekalai sempat menyerah, berhenti membuat film dan berhenti mencintai Bharathiraja. Selama 2 tahun setelahnya Manimekalai bekerja serabutan.

Tapi Manimekalai tak bisa menahan kecintaannya pada film dan sajak. Dia bilang film-film dan sajak-sajaknya adalah corong untuk mengangkat isu marginalisasi dan sosial di India. “Juga sebagai intervensi politik saya, supaya kemudian terjadi perubahan,” katanya.





(DES/DES)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed