Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 17 Jan 2014 09:43 WIB

Hobi Mobil Klasik (1)

Mobil Klasik Lebih Moncer Dari Emas

- detikFinance
Penggemar mobil klasik sedang berkumpul. (Foto: Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia) Penggemar mobil klasik sedang berkumpul. (Foto: Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia)
Jakarta - Kita tentu akrab dengan mobil. Kendaraan bermotor roda empat ini pada dasarnya merupakan alat transportasi untuk menunjang mobilitas. Namun ada sebagian mobil yang punya fungsi lain, yaitu sebagai sumber prestise.

Mobil untuk menunjukkan prestise ini adalah yang berharga mahal, atau biasa disebut mobil mewah. Sudah sejak dulu mobil mewah seperti keluaran Mercedes-Benz, BMW, Aston Martin, Bentley, dan sebagainya diincar oleh para kaum jetset.

Seiring waktu, mobil-mobil tersebut tidak kehilangan pamornya. Bahkan mobil-mobil mewah lawas alias vintage car atau mobil klasik, masih tetap diburu dan harganya justru meroket.

Mengoleksi mobil-mobil klasik merupakan hobi yang mendunia, dan di Indonesia penggemarnya pun tidak sedikit. Para pecinta vintage car ini rela menghabiskan dana ratusan juta hingga miliaran rupiah untuk menjalani hobi ini.

“Kalau mobil klasik dibilang hobi mahal, itu memang benar sekali. Hanya yang punya uang lebih yang bisa menggelutinya. Untuk yang belum punya cukup dana, lebih baik membeli mobil baru,” kata Dharma Adsasmuda, pemilik Kedai Vintage yang menjual berbagai mobil klasik dan aksesorisnya.

Mengoleksi mobil klasik, lanjut Dharma, bukan hanya sekedar hobi tetapi juga bisa menjadi investasi. “Harganya tidak mungkin turun, seperti membeli tanah di Menteng atau Kebayoran Baru,” ujarnya, kepada detikFinance, di Jakarta, kemarin.

Kenaikan harga sebuah mobil klasik jenis tertentu, tambah Dharma, bisa mencapai 100 persen setiap tahunnya. “Biasanya mobill dua pintu atau sport yang harganya bagus. Kemudian mobil yang masih orisinil, tidak ada penggantian macam-macam,” tuturnya.

Dharma tidak sekedar bicara. Kantor berita CNN akhir tahun lalu merilis laporan bahwa vintage car merupakan instrumen investasi yang menguntungkan. Dalam satu dekade terakhir, Knight Frank Luxury Index mencatat rata-rata harga mobil klasik naik 430 persen. Kenaikan ini jauh mengungguli harga emas (273 persen) atau indeks FTSE 100 (55 persen).

Juli tahun lalu, sebuah Mercedes-Benz buatan 1954 terjual dengan harga US$ 29,6 juta atau lebih dari Rp 355 miliar dalam sebuah lelang.

“Pemintaan mobil klasik terus meningkat. Bersama dengan perhiasan dan benda seni dari Asia, mobil klasik saat ini masuk tiga besar sebagai benda layak koleksi,” sebut Chloe Ashby, juru bicara rumah lelang Bonham.

Dietrich Hatlapa, pendiri Historical Automobile Group, menyatakan bahwa mobil klasik memiliki daya tarik tersendiri, khususnya saat terjadi krisis di sektor keuangan. “Dalam 10 tahun terakhir, orang mulai berinvestasi pada benda-benda fisik dan salah satunya adalah mobil klasik. Investasi di mobil klasik sangat menyenangkan karena Anda bisa mengendarainya dan mewariskannya kepada generasi berikut,” paparnya.

Namun, berinvestasi di mobil klasik bukan tanpa risiko. Tidak seperti saham atau emas, mobil tidak bisa dijual begitu saja ketika Anda membutuhkan dana segar. “Memang agak kurang likuid. Anda tidak bisa begitu saja mengetuk pintu tetangga sebelah untuk menawarkan mobil klasik,” kata Andrew Shirley, editor di Knight Frank.

Selain masalah likuiditas, sebuah mobil klasik juga harus dirawat dengan baik agar harganya tidak turun. “Jadi sebaiknya terjun di mobil klasik tidak hanya untuk investasi. Anda harus punya hasrat, karena nilai sebuah mobil bukan dari harganya tapi dari hasrat kita untuk memiliki dan menjaganya,” tegas Hatlapa.



(hds/DES)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed