Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 20 Jan 2014 16:10 WIB

Serikat Pekerja Bagi Si Cantik (4)

Kisah Model Di China: Sebutir Telur dan Apartemen Sempit

- detikFinance
Model-model China dalam sebuah peragaan busana. (Foto: Reuters) Model-model China dalam sebuah peragaan busana. (Foto: Reuters)
Jakarta - Kisah Meredith Hattam langsung menjadi buah bibir di ranah maya. Tulisannya di blog Fashionista, blog mengenai dunia dan industri model yang populer, semakin membuka mata dunia tentang dunia modeling di China.

Dalam tulisannya, Hattam yang kini tinggal di Brooklyn mengisahkan pengalamannya selama menjadi model di China. “Meredith Hattam: My Life Working as a Model in China” begitu tajuknya.

Hattam membuka tulisannya dengan kisah perjalanan naik kereta api selama 30 jam bersama temannya dari Ukraina, Lana. Gadis 16 tahun itu disebutnya hanya makan sebutir telur rebus yang akan menjadi makanan satu-satunya sampai 10 hari ke depan.

Hattam bilang, Lana terpaksa hanya makan sebutir telur itu sebab agensi tempat mereka bekerja di Beijing, punya aturan 'mengerikan'. Kalau berat badan naik lebih dari yang seharusnya, bayaran mereka akan langsung dipotong.

Ada beberapa kisah pilu yang diungkap Hattam dalam tulisan panjang itu. Termasuk soal jam kerja yang luar biasa. Sebagai contoh, saat mereka harus jadi model untuk mobil militer, selama 8 jam harus berdiri di atas tank dengan pakaian minim dan memberi salut setiap jam.

Untuk itu, mereka dibayar US$ 200 saja. Tapi 40 persen adalah bagiannya agensi dan 10 persen untuk scout yang memberikan job. Kebanyakan job memakan waktu 9 jam dan mereka harus bepergian ke Shenzhen, Guangzhou, dan Hangzhou, kota-kota pusat industri fashion China.

Di Beijing, Hattam dan teman-temannya harus tinggal di apartemen sempit yang dihuni sekitar 13 orang: 9 perempuan dan 4 lelaki. Kebanyakan berusia di bawah 18 tahun dan berasal dari negara bekas Uni Soviet atau Eropa Timur.

Kisah lebih parah adalah bahwa pekerjaan mereka tak semata-mata jadi model. Menurut Hattam, ada temannya yang dipaksa menjadi bak pelacur. Ketika dia menolak, agensi langsung memecatnya begitu saja tanpa kompensasi.

Beruntung Hattam tak bernasib setragis beberapa orang yang disebutnya memilih bunuh diri lantaran tak kuat menahan tekanan.

Kisah lainnya digambarkan oleh Natalia Zurowski di situs Aliansi Model. Pada 2008 dia pernah bekerja selama dua bulan di Shanghai dan bertemu dengan Diana O'Brien, seorang model asal Kanada, negeri asal Zurowski juga.

Diana O'Brien adalah model yang dibunuh oleh perampok di depan apartemennya sendiri, tak lama setelah Zurowski berangkat ke Jepang. Zurowski bilang, kisah Diana adalah kisah tipikal model di China.

Diana pernah mengungkapkan ketidakbetahannya di Shanghai karena dipaksa juga untuk menjadi seorang escort, menemani pria hidung belang di klub malam. Jam kerja berlebihan membuat Diana sering pulang larut malam.

Parahnya, apartemen yang disewa agensi mereka ternyata longgar pengamanannya. Lebih parah lagi, setelah pembunuhan itu, agensi Diana bak lenyap ditelan bumi.

Di China saat ini ada lebih dari 70 agensi modeling. Banyak model yang membidik negeri ini karena pasarnya tak terlalu kompetitif. Bahkan, dari mereka kebanyakan adalah pemula yang sedang membangun portofolionya.

Bagi orang asing, bekerja di industri fashion di Eropa dan Amerika itu tak mudah. Mereka harus memiliki visa kerja yang legal. Agensi biasanya harus yakin betul terhadap sang model karena mereka harus membayar biaya visa, transportasi, dan apartemen, di muka. Sementara di China, ongkosnya relatif lebih murah.






(DES/DES)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com