Follow detikFinance
Jumat, 11 Apr 2014 09:06 WIB

Mencermati Reaksi Pasar Terhadap Pemilu (1)

Pemenang Tak Dominan, Pasar Bereaksi Negatif

- detikFinance
Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, dan calon presiden dari PDI Perjuangan, Joko Widodo. (Foto: Agung Pambudhy/Detikcom) Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, dan calon presiden dari PDI Perjuangan, Joko Widodo. (Foto: Agung Pambudhy/Detikcom)
Jakarta - Indonesia telah menyelenggarakan Pemilihan Umum (Pemilu) Legilatif pada 9 April 2014. Rencananya Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan mengumumkan hasilnya pada 9 Mei 2014. Namun sejumlah lembaga survei telah merilis hasil hitung cepat (quick count) masing-masing.
 
Angka yang ditampilkan masing-masing survei pun berbeda. Cyrus-CSIS, misalnya, menempatkan PDI Perjuangan di peringkat pertama dengan perolehan suara 19 persen, disusul Partai Golkar 14,3 persen, Partai Gerindra 11,8 persen, dan Partai Demokrat 9,6 persen.

Sementara survei RRI menyebutkan PDI-P sebagai pemenang dengan suara 18,6 persen, kemudian Golkar 14,8 persen, Gerindra 11,5 persen, dan Demokrat 10,2 persen.
 
Meski angkanya berbeda, tetapi ada kesamaan di mana berbagai lembaga survei menyebutkan PDI-P sebagai peraih suara terbanyak dalam Pemilu 2014. Disusul Golkar, Gerindra, dan Demokrat. Artinya, konstelasi di lembaga legislatif akan berubah dibandingkan 10 tahun terakhir.
 
Dari hasil quick count, tidak ada partai yang bisa melenggang sendirian untuk mengajukan calon presiden-wakil presiden. Aturan menyebutkan bahwa calon presiden-wakil presiden hanya bisa diajukan oleh partai atau gabungan partai dengan suara nasional 25 persen atau 20 persen kursi legislatif. Jadi, koalisi sepertinya akan kembali terjadi.
 
Quick count memang bukan hasil resmi, tetapi biasanya tidak akan jauh dengan angka yang nantinya dirilis oleh KPU. Oleh karena itu, pasar diperkirakan sudah beraksi berdasarkan hasilnya quick count.
 
Beberapa analis menilai perkiraan hasil pemilu legislatif membawa sentimen negatif. Ini karena tidak adanya pemenang mutlak, sehingga ketidakpastian pemimpin Indonesia ke depan cukup besar.
 
Pada Kamis (10/4/2014), IHSG tercatat turun 3,16 persen menjadi 4.765,73 poin. Sementara berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah juga melemah menjadi Rp 11.342 per dolar Amerika Serikat dibandingkan Rp 11.309 pada Selasa (8/4/2014).
 
“Pasar bereaksi negatif karena suara PDI-P tidak dominan dan di bawah perkiraan. Bursa saham turun, rupiah melemah, dan bunga obligasi pemerintah 10 tahun naik menjadi 7,81 persen,” kata Anton Hendranata, Ekonom Bank Danamon.
 
Namun, Anton memperkirakan koreksi ini hanya temporer. “Koreksi yang terjadi saat ini masih cukup sehat. Ini juga dibutuhkan agar pasar lebih rasional dan tidak terlalu dikendalikan oleh sentimen,” ujarnya.
 
Riset Semesta Indovest memperkirakan pasar akan bergerak konsolidasi mencermati hasil pemilu, di mana hasil quick count menunjukkan tidak ada satu partai pun yang mendapat suara mayoritas. “Diperlukan koalisi untuk mengusung pasangan capres-cawapres,” sebut riset itu.
 
Hal senada dikemukakan tim riset Kiwoom Securities Indonesia. Pasar awalnya sudah berekspektasi PDI-P bisa mengajukan capres-cawapres sendiri, dan Joko Widodo bisa lebih santai melenggang ke Istana. Namun ternyata perolehan suara PDI-P tidak memenuhi ambang batas pengajuan calon RI-1 dan RI-2. Ini menyebabkan situasi menjadi tidak pasti.
 
“Hasil perhitungan cepat mengindikasikan tidak ada satupun partai yang berhasil meraih suara minimum untuk dapat mengajukan capres-cawapres. Hal tersebut berpotensi meningkatkan ketidakpastian di pasar yang telah mengantisipasi Jokowi menjadi capres dari PDIP. Dengan demikian seluruh partai politik harus melakukan koalisi untuk menyusun peta kekuatan politiknya,” papar riset tersebut.
 
Sementara First Asia Capital menyebutkan perkiraan yang berbeda. Menurut riset mereka, hasil quick count pemilu sudah diperkirakan sebelumnya sehingga tidak terlalu mempengaruhi reaksi pasar. Ada faktor lain yang menjadi perhatian investor yaitu kinerja emiten kuartal I-2014.
 
“Hasil perhitungan cepat Pemilu legislatif menyatakan PDIP memperoleh sekitar 19 persen suara, dan ini dinilai tidak akan berpengaruh banyak ke pasar karena sesuai dengan perkiraan sejumlah lembaga survei sebelumnya. Dalam waktu dekat katalis pergerakan IHSG akan lebih dipicu respons atas rilis laba emiten sektoral yang mulai keluar akhir bulan ini,” jelas riset First Asia Capital.



(hds/DES)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed