Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 15 Nov 2014 09:10 WIB

Insinyur ASEAN Samakan Persepsi Jelang MEA

- detikFinance
Ilustrasi Foto: Dok. detikFinance Ilustrasi Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Lebih dari 500 insinyur seluruh negara ASEAN berkumpul selama tiga hari pada 11-13 November 2014 lalu di Yangon, Myanmar untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan di acara Konferensi AFEO (Perhimpunan Organisasi Insinyur se-ASEAN) ke-32.

Konperensi internasional ini sekaligus menjadi ajang urun-rembug dan konsolidasi para insinyur negara ASEAN dalam menghadapi tantangan besar dengan mulai diberlakukannya ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun depan.

Terdapat kesamaan pandangan bahwa para insinyur dari negara di kawasan ASEAN sudah saatnya menerapkan regulasi yang selaras dan standar yang sama di setiap Negara.

“Jika tidak, manfaat MEA tidak akan dapat dimaksimalkan secara merata oleh setiap anggota ASEAN,” kataBobby Gafur Umar, Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dalam keterangan persnya dari Yangon, Myanmar, seperti dikutip Jumat (15/11/2014).

Konferensi AFEO ke-32 tersebut, menurut Bobby, juga sekaligus menjadi ajang urun-rembug yang sangat bermanfaat untuk mengadakan penyamaan persepsi dan pikiran, sekaligus konsolidasi persiapan menyambut diberlakukannya kawasan pasar bebas ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC), tahun depan.

Menurut Bobby, pihaknya juga memaparkan berbagai pengalaman Insinyur Indonesia dalam banyak bidang, termasuk pengerjaan infrastruktur jalan tol, penanganan dan mitigasi bencana, serta presentasi tentang green energy di Indonesia.

“Totalnya, ada 59 topik yang dipaparkan Insinyur se-ASEAN dalam ajang 3 hari tersebut. Banyak hal yang kami bahas dan carikan solusinya dalam pertemuan-pertemuan teknis kami di Yangon ini. Intinya, kami beruntung dapat mengambil banyak manfaat dari pemaparan teman-teman sesama insinyur ASEAN, khususnya dalam hal solusi untuk ketersediaan energi, transportasi dan infrastruktur yang terintegrasi”, katanya.

ASEAN Economic Community yang akan diberlakukan efektif pada tahun 2015, menurut Bobby, tidak harus menjadi momok yang menakutkan bagi para insinyur Indonesia.

“Kita tidak perlu takut, tetapi memang harus lebih siap. Sebab, jika tidak siap, bukan hanya hasil dan produk industri dalam negeri yang terancam, tapi penyedia jasa lokal pun akan gigit jari melihat lahan pekerjaan mereka dirampas tenaga asing. Indonesia, dan para insinyur Indonesia harus siap menghadapi situasi ini. Buat para insinyur Indonesia, tidak mudah untuk menerima kenyataan ini. Tapi harus dihadapi. Karena itu, harus benar-benar siap mengantisipasi,” kata Bobby mengingatkan.

Harus Berdaya Saing

Kenyataannya, Indonesia memang dihadapkan pada berbagai tantangan berat dalam menyongsong pasar bebas tersebut. Salah satunya, terkait dengan ihwal daya saing tenaga ahli Indonesia.

“Meningkatkan daya saing para insinyur Indonesia sehingga mereka memiliki kompetensi dan keahlian yang sesuai dengan standar mutual recognition arrangements (MRA) dan bersertifikai ASEAN Chartered Professional Engineer (ACPE), adalah sebuah tantangan dan pekerjaan rumah yang harus segera kita atasi. Insinyur Indonesia harus memiliki daya saing lebih,” katanya.

Sebagai catatan, hingga Agustus 2014, Indonesia baru memiliki 124 tenaga insinyur yang memenuhi standar kompetensi dan keahlian yang sesuai dengan standar MRA, dan bersertifikasi ASEAN Chartered Professional Engineer (ACPE).

“Sementara insinyur di seluruh kawasan yang Masyarakat Ekonomi ASEAN yang sudah ber-standar MRA dan bersertifikasi ACPE sudah banyak sekali. Mencapai 700 orang lebih, didominasi Singapura dan Malaysia,” kata Bobby menjelaskan.

Enam kriteria MRA adalah pendidikan, ujian, registrasi dan pemberian lisensi, pengalaman pendidikan profesional lanjutan, dan kode etik (professional conduct). Karena itu, Bobby menghimbau tenaga insinyur Indonesia untuk segera memenuhi kriteria-kriteria tersebut.

Bangun Jaringan

Selain negara anggota ASEAN, konferensi internasional AFEO ke-32 di Yangon, Myanmar juga dihadiri para insinyur negara-negara Asia lainnya seperti Jepang, Cina, Korea, India dan lain-lain.

Konferensi ini diselenggarakan bersamaan dengan pertemuan ASEAN Summit, 11-13 November 2014 yang menghadirkan pemimpin-pemimpin puncak ASEAN dan dunia. Konferensi Insinyur ASEAN tahun ini merupakan yang kedua kalinya yang diadakan di Myanmar.

Indonesia sendiri baru saja mendapat giliran menjadi tuan rumah, tahun lalu. Konferensi AFEO memang diadakan setiap tahunnya dengan tuan rumah bergiliran.

Bobby mengatakan, delegasi Indonesia yang dipimpinnya kali ini membawa 28 peserta dari berbagai latar belakang ilmu keinsinyuran dan profesi pekerjaan, serta diikuti juga oleh beberapa anggota PII dari beberapa daerah di Indonesia dan perwakilan dari Forum Anggota Muda Insinyur Indonesia.

Pertemuan puncak tahunan ini menjadi kancah penting bagi para Insinyur di kawasan regional ASEAN untuk membangun jaringan, mempererat kerjasama, serta memecahkan problem keinsinyuran bersama-sama.

Ketua penyelenggara yang juga merupakan Pimpinan Insinyur Myanmar, U Win Khaing menyatakan bahwa pertemuan kali ini juga menjadi semacam persiapan final bagi para pelaku keinsinyuran dan perekayasaan dikawasan ini dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN di 2015 mendatang.

“Kami perlu menerapkan regulasi yang selaras dan standar yang sama disetiap negara,” ujarnya.

Para pimpinan insinyur Negara-negara kawasan ASEAN ini juga secara khusus berkunjung ke istana presiden Myanmar di ibukota Nay Pyi Taw, untuk menyerahkan penghargaan khusus ‘distinguished honorary patron award’ kepada Presiden U Thein Sein.

Acara ini diselenggarakan disela-sela persiapan tuan rumah menyambut para pimpinan Negara-negara ASEAN termasuk Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed