Follow detikFinance
Senin 29 Dec 2014, 13:00 WIB

PDAM di Bogor Sulit Investasi Gara-gara Aturan Ini

- detikFinance
PDAM di Bogor Sulit Investasi Gara-gara Aturan Ini
Bogor - Upaya pemerintah untuk mendorong percepatan pembangunan ternyata belum diimbangi oleh dukungan dari sisi birokrasi. Hal ini seperti yang dialami Badan Usaha Milik Daerah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan.

Direktur Umum PDAM Tirta Pakuan Syaban Maulana menjelaskan, ada Peraturan Menteri Dalam Negeri No 23/2006 yang melarang pihaknya untuk memperoleh keuntungan lebih dari 10% dari aktiva produktif yang dikelola perusahaan.

Aktiva produktif adalah aset produktif yang dikelola perusahaan yang memberikan kontribusi langsung pada pendapatan perusahaan seperti sambungan terpasang.

"Kalau akitiva produktif kita Rp 2 miliar, maka untung kita maksimal Rp 200 juta. Pernah itu kita meraup untung sekitar 30%, akhirnya kita diperkarakan sampai saat ini masih diproses di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)," ungkap Syaban dalam acara temu media di kantor PDAM Tirta Pakuan, Kota Bogor, Senin (29/12/2014).

Dengan hambatan seperti ini, PDAM jadi sulit melakukan investasi-investasi baru untuk memperluas cakupan layanan seperti membangun sambungan baru air minum di wilayah kerjanya.

"Di satu sisi, kami dituntut mempercepat peningkatan akses masyarakat terhadap air bersih. Tapi di sisi lain, karena ada aturan ini pendanaan kami jadi nggak terlalu leluasa. Jadi pembangunan tetap bisa berjalan, tapi lambat," sebut dia.

Namun demikian, Syaban mengaku hambatan tersebut diupayakan tidak terlalu berdampak terhadap pelayanan. Sejumlah cara ditempuh, seperti mengajukan pinjaman kepada perbankan.

"Kita ada pinjaman di tahun 1993 sebesar Rp 34 miliar dengan bunga 10%. Cicilannya mulai 1997, selesai 2018. Kemudian ada pinjaman dari Bank Jabar Rp 25 miliar bunganya 16%. Mulai pembayaran cicilan 2007 dan selesai 2017. Kemudian ada lagi pinjaman Bank Dunia sekitar Rp 90 miliar baru mulai dicicil 2018, bunga lunak 6%," paparnya.

Dengan langkah-langkah itu, perusahaan saat ini sudah berhasil melayani 77% cakupan pelanggan atau sekitar 130.000 pelanggan di wilayah Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Saat ini perusahaan sedang berfokus untuk menambah cakupan layanannya dengan melakukan pembangunan Water Treatment Plant (WTP) alias Instalasi Pengelolaan Air (IPA) Katulampa.

"Dengan ada tambahan WTP Katulampa, kita bisa tambah pelanggan sampai 44.500 pada 2017," sambung dia.

Untuk memenuhi kebutuhan investasi pembangunan IPA Katulampa, perusahaan berencana menerbitkan obligasi sebesar Rp 100-150 miliar.

"Tapi masih dikaji lagi dengan penjamin keuangannya. Belum bisa dipaparkan lebih jauh. Tapi penggunaannya untuk WTP atau IPA Katulampa itu," pungkas Syaban.

(dna/hds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed