Dahulu, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dibangun dengan sistem kerja berdasarkan kedekatan dan senioritas. Kini, manajemen karir berubah seperti pemberlakuan reward and punishment.
Yang muda dan beprestasi bisa memiliki karir cemerlang bahkan bisa mengalahkan pekerja senior yang kurang produktif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut ini cerita jenjang karir level bawah di perusahaan hingga bisa jadi pimpinan di perusahaan induk hingga anak usaha di kedua perusahaan pelat merah tersebut, seperti dikutip detikFinance, Jumat (27/3/2015).
Penjaga Pintu Tol Bisa Jadi Direktur di Group Usaha Jasa Marga
|
|
Bahkan seorang penjaga tol alias petugas pemungut karcis bisa menduduki posisi pimpinan di BUMN operator jalan tol ini.
"GM saya di human capital dulu dari pool tol (pengumpul karcis). Kemudian GM kita PKBL, juga mantan petugas pengumpul tiket," kata Direktur SDM Jasa Marga Muhammad Najib Fauzan.
Dengan peluang karir yang terbuka, seorang karyawan yang awalnya dari level bawah bisa naik hingga menjadiΒ direktur di anak usaha.
"Seorang GM bisa jadi direktur anak usaha," ujarnya.
Perseroan, kata Najib, membangun sistem manajemen karir, manajemen kinerja dan pemberian rumenerasi atau pemberian gaji tinggi bagi karyawan. Tujuannya ialah mendorong kinerja perusahaan.
Bahkan ke depan, karyawan Jasa Marga pada usia 35 tahun bisa menduduki posisi direksi di anak usaha. Jenjang karir ini berlaku untuk semua karyawan tanpa kecuali.
Dari Penjaga Pintu Kereta Bisa Jadi Pimpinan di Perusahaan Induk KAI
|
|
Mengawali karir sebagai pegawai operasional yakni penjaga pintu perlintasan sebidang, karir Sugeng melompat hingga menduduki posisi Corporate Secretary alias Sekretaris Perusahaan KAI Pusat. Posisi ini merupakan jabatan karir yang berada di bawah koordinasi Direktur Utama.
Padahal saat awal-awal bekerja dan melihat jenjang karir di KAI (dahulu PJKA), Sugeng membayangkan hanya bisa menduduki posisi manajer di level daerah atau Daerah Operasi (DAOP).
"Saya dulu didinaskan di bagian operasi. Salah satu tugas bagian operasi selain melayani perjalanan KA, yakni menjaga perlintasan sebidang di dalam sinyal masuk yang ada di stasiun," cerita Sugeng kepada detikFinance.
Setelah menjadi penjaga palang pintu pada tahun 1981, Sugeng berpindah posisi sebagai juru lansir alias tukang parkir kereta. Karir penjaga pintu perlintasan dan parkir kereta merupakan posisi paling bawah di perseroan.
Karirnya berjalan lambat karena posisi berputar di daerah. Ia pernah menjadi wakil kepala stasiun. Hingga akhirnya periode baru datang ketika Ignasius Jonan dipercaya dipercaya menjadi Direktur Utama KAI pada tahun 2009.
"Saya juga sekarang heran kok bisa jadi Sekper. Karena dulu saya menduga atau sudah mapping saya paling mentok manajer di daerah operasi.Β Faktanya saya bisa jadi manajer, senior manajer, VP, Kadaop, Deputi Kadaop, sampai sekarang jadi Sekper," ujarnya.
Sugeng mengaku awalnya sempat menyangsikan Jonan memimpin KAI karena datang dari luar perusahaan. Sebab puluhan tahun KAI menghadapi kenyataan kesalahan dalam pengelolaan.
Apalagi Jonan hanya berlatar belakang seorang bankir atau tidak memiliki latar belakang transportasi. Singkat cerita, Sugeng pernah bertemu Jonan di Surabaya pada tahun 2009. Di sana ia ditanya tentang pengalaman dan perasaan bekerja di KAI.
Di depan Jonan, ia mengaku kondisi KAI sudah sangat semrawut. Ia meminta ada suatu perubahan di perseroan hingga akhirnya ia ditarik ke Jakarta. Di sinilah kebangkitan karir Sugeng dan karyawan KAI lainnya.
Dari Tukang Parkir Kereta, Subakir Jadi Direktur Anak Usaha KAI
|
|
Sistem reward dan punisment diberlakukan. Tidak memandang usia dan level pendidikan apapun, Jonan saat di KAI melakukan pengangkatan hingga rotasi jabatan secara cepat.
Kinerja kinclong akan dipromosikan sedangkan kinerja turun atau bermasalah maka akan digrounded alias dicopot tanpa padang bulu. Dengan pola karir tersebut, Subakir, seorang pegawai KAI yang mengawali karir sebagai juru parkir kereta hingga penjaga palang pintu, bisa memiliki peluang menduduki posisi top manajemen alias direktur di salah satu anak usaha KAI, PT Kereta Api Logistik (KA Log).
"Bulan Maret 1983 saya diterima di KAI saya diterima sebagai pelaksana di stasiun besar Sidotopo (Surabaya). Di sana tugas pokok penjaga pintu perlintasan di Jalan Kenjeran terus dinas juru lansir alias tukang parkir kereta, juru rumah sinyal, juru wesel, PPKA, dan menjadi staf kepala stasiun Sidotopo selama 14 tahun. Jadi 14 tahun itu jadi pelaksana (petugas paling bawah)," kata Subakir saat ngobrol santai bersama detikFinance.
Subakir masuk sebagai karyawan Perusahaan Jawatan Kereta Api (kini KAI) pada Maret 1983.
Pencapaian karir sebagai direktur diperoleh dari hasil uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang ketat.
Pria yang kini berusia 52 tahun juga telah melewati jenjang karir yang cepat semasa Jonan menjabat Dirut KAI. Ia akhirnya dipercaya sebagai Direktur Operasi PT KA Logistik.
Tanpa Jonan, kesempatan menjadi pimpinan atau direktur sangat tipis alias mustahil. Apalagi Subakir hanya mengenyam pendidikan sampai Sekolah Menengah Atas alias SMA. Meski berbekal ijazah SMA, Subakir berusaha dan berkomitmen bekerja dengan total. Artinya gaya kerja Subakir harus di atas rata-rata sarjana.
"Walaupun Pak Jonan hargai pendidikan. Cepat sekali rotasinya kalau sarjana nggak mampu kerja ya langsung di-grounded sehingga perputaran pegawai cepat. Kalau nggak ada putaran ini, kita nggak mungkin (bisa jadi direktur) dan kita sudah terbuang," ujarnya.
Selain melakukan perombakan manajemen karir, KAI pada periode Jonan melakukan peningkatan kesejahteraan karyawan. Dari gaji pas-pasan, Jonan menaikkan level kesejahteraan karyawan KAI di atas rata-rata. Meski gaji dinaikkan, perusahaan justru untung. Padahal saat gaji rendah, KAI malah mengalami kinerja keuangan negatif.
Halaman 2 dari 4











































