Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 05 Mei 2015 15:25 WIB

Pria Ini Ciptakan Mesin Benang Pertama di RI, Gantikan Barang Impor China

- detikFinance
Jakarta - Industri kecil dan menengah (IKM) di sektor tekstil dan garmen boleh bernafas lega, karena kini sudah diciptakan alat penggintiran (merangkap beberapa helai benang) khusus untuk IKM. Alat ini diciptakan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Tekstil Kementerian Perindustrian di Bandung, Jawa Barat.

Gintir adalah proses pemintalan benang menjadi rangkap. Dua benang berbeda dibentangkan lalu disatukan menjadi satu jenis benang. Hasilnya bervariasi, ada dua warna, atau dengan jenis benang yang berbeda. Jenis benang ini banyak digunakan untuk produk-produk garmen.

Adalah Moekarto, seorang peneliti asal Ba‎ndung di Balitbang Tekstil. Kementerian Perindustrian yang menciptakan alat yang bernama Twist Fancy Bulky (TFB) Yarn Machine ini.

"Sekarang IKM tidak perlu ke pabrik besar, bisa buat sendiri. Kalau menggintir ke pabrik itu kasihan mereka, repot," tutur Moekarto ditemui detikFinance di Plasa Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto Jakarta, Selasa (5/5/2015).

Ingin memajukan sektor industri tekstil skala kecil dan menengah yang menjadi latar belakang Moekarto membuat mesin ini. Ia mengatakan, butuh waktu yang cukup lama untuk membuat mesin yang bekerja secara otomatis ini. Sebelum membuat purna rupa mesin ini, dia menghabiskan waktu selama 5 tahun untuk melakukan penelitian.

"Namanya penelitian ada gagal-gagalnya," tutur Moekarto.

Mesin ini mampu membuat benang rangkap, benang hias 5-11 meter per menit, dengan tegangan listrik daya 100 watt. Jauh lebih hemat menurutnya dibanding dengan mesin-mesin serupa di pabrik-pabrik tekstil berskala besar yang memiliki daya lebih dari 2.000 Watt.

Moekarto juga mengatakan, saat ini, belum ada perusahaan yang mampu membuat mesin tersebut‎. Perusahaan-perusahaan tekstil besar masih menggunakan mesin-mesin buatan China, Jerman, Taiwan, dan Jepang dalam produksinya.

"Ini yang pertama (di Indonesia), dan jauh lebih hemat energi dan lebih murah," katanya.

Ia menuturkan, harga mesin-mesin penggintiran impor buatan luar negeri tersebut bisa mencapai Rp 500-600 juta/unit, sudah pasti menurutnya tak mampu dijangkau oleh IKM.

"Kalau ini bisa diproduksi massal, taksiran saya harganya sekitar Rp 25-30 juta, IKM bisa pakai," tuturnya.

(zul/hen)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed