Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 13 Des 2015 12:14 WIB

Muhammadiyah Siapkan 1 Juta Pengusaha Baru

Rista Rama Dhany - detikFinance
Surabaya -

Indonesia akan segera memasuki komunitas terintegrasi ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yang merupakan bentuk realisasi dan tujuan akhir integrasi ekonomi negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Dalam rangka ini, Muhammadiyah sebagai salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia berharap masyarakat tidak hanya menjadi penonton dan obyek pasar, namun harus berperan sebagai subyek penentu dan pelaku pasar di Kawasan ASEAN.

Dalam menyongsong MEA dan kemandirian ekonomi organisasi Muhammadiyah, Majelis Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Temu Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) di Hotel Golden Palace, Jl. Yos Sudarso 24 Surabaya pada Jumat sampai Minggu, 11 sampai 13 Desember 2015.

Kegiatan ini merupakan implementasi dari muktamar ke-47 di Makasar 2015, yang di antaranya Muhammadiyah mencanangkan bidang ekonomi sebagai pilar ketiga gerakan dakwahnya, selain pilar pendidikan dan pilar kesehatan yang selama ini sudah banyak dikembangkan Muhammadiyah dengan pendirian sekolah/ perguruan tinggi dan rumah sakit/ klinik kesehatan.

Pencanangan ini bermakna bahwa pengembangan ekonomi persyarikatan dan warga persyarikatan menjadi bidang dakwah utama yang dianggap strategis sebagaimana dua bidang lainya, yakni pendidikan dan kesehatan.

Pencanangan bidang ekonomi sebagai pilar ketiga sekaligus menandai ciri Islam berkemajuan yang menjadi spirit gerakan dakwah muhammdiyah. Dalam Temu Jaringan Saudagar Muhammadiyah ini diharapkan menjadi tonggak bangkitnya ekonomi Muhammadiyah, yang di antaranya akan dicanangkan penciptaan satu juta pengusaha baru di kalangan Muhammadiyah dalam lima tahun ke depan.

Ketua Majelis Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga pengusaha sukses di bidang perikanan asal Surabaya Mohammad Nadjikh, perhatian Muhammadiyah terhadap bidang ekonomi sangat relevan dengan persoalan kekinian umat Islam khususnya dan rakyat Indonesia umumnya.

Disparitas kekayaan dan kesejahteraan antara kelompok masyarakat sudah di luar kewajaran. Umat Islam yang mencapai 85% dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia hanya mengendalikan sekitar 20% kekayaan Indonesia.

Pengusaha-pengusaha muslim jumlahnya masih sangat sedikit. Situasi demikian berdampak pada melemahnya posisi tawar umat Islam di bidang-bidang lainnya. Disparitas yang tajam juga mengakibatkan pertumbuhan ekonomi tidak punya manfaat yang siginifikan dalam meningkatkan derajat kesejahteraan penduduk.

"Untuk itu, kita akan membuat gerakan ciptakan satu juta pengusaha baru Muhammadiyah di semua bidang usaha di seluruh Indonesia," jelas M. Nadjikh dalam siaran pers, Minggu (13/12/2015).

Indonesia akan maju jika 2% masyarakatnya menjadi pengusaha. Idealnya, Indonesia memiliki 4,4 juta pengusaha dari jumlah angkatan kerja produktif. Sementara saat ini, Indonesia hanya memiliki 400 ribu pengusaha dan sisanya adalah pekerja/ buruh kerja.

Kondisi ini sangat tidak memungkinkan ekonomi Indonesia akan bisa cepat maju menyamai negara-negara maju.

“Untuk itu kita akan berusaha mendorong kader Muhammadiyah, siswa dan mahasiswa di sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah untuk menjadi pengusaha baru di kemudian hari,” jelas M Nadjikh.

Semangat ini sejalan dengan pendirian dan perkembangan Muhammadiyah yang banyak dipelopori oleh perpaduan kiprah para saudagar/pengusaha yang juga merupakan para pendakwah/dai.

Selain mengajarkan tentang agama, para aktivis Muhammadiyah juga mengembangkan usaha dan bisnis sehingga ketahanan akidah akan diimbangi dengan ketahanan ekonomi dan kesejahteraan.

Itu juga yang dilakukan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, yang selain guru mengaji di lingkungan Keraton Yoyakarta, beliau adalah seorang pengusaha batik. Ini juga sejalan dengan Nabi Muhammad SAW yang juga pengusaha sukses di Zajirah Arab saat itu.

Indonesia saat ini, 40% penduduk masih hidup di bawah garis kemiskinan, miskin dan hampir miskin. Akibatnya fundamental ekonomi Indonesia rapuh dan tidak tahan (tidak mandiri) terhadap gejolak ekonomi global.

Muhammadiyah sebagai institusi, gerakan dan komunitas memiliki potensi yang besar untuk mengangkat derajat ekonomi umat agar setara dan bahkan terampil sebagai Khoiru Ummah di bidang ekonomi. Pada peran inilah terletak urgensi pengembangan bidang ekonomi sebagai pilar ketiga dakwah Persyarikatan.

Upaya mengembangkan potensi ekonomi yang dimaksud tentu membutuhkan dukungan, kerjasama dan sinergi dari pelaku usaha atau saudagar dan profesional di bidang sains dan ekonomi.

Kehadiran dan peran mereka sangat dibutuhkan untuk membangun enterpreneurship culture warga Muhammadiyah, mengembangkan amal usaha baru di bidang perdagangan, agroindustri, jasa dan bisnis-bisnis lainnya bagi Muhammadiyah.

Dukungan, kerja sama dan sinergi yang kuat para saudagar akan mengantarkan Muhammadiyah dan para saudagarnya tampil sebagai kekuatan baru ekonomi Indonesia lima tahun ke depan. Untuk mencapai hal besar itu perlu diambil suatu langkah awal, yaitu pembentukan jejaring saudagar yang akan saling bersinergi membangun ekonomi Muhammadiyah dan warganya. Langkah awal ini akan diwujudkan dengan menyelenggarakan "Temu Jaringan Saudagar Muhammadiyah."

Acara ini dihadiri oleh 300 pengusaha Muhammadiyah dari seluruh Indonesia, pengurus PP Muhammadiyah, seluruh Dekan Fakultas Ekonomi Perguruan Tinggi Muhammadiyah, mitra dan pengusaha Muhammadiyah di luar negeri, serta pengelola amal usaha bidang ekonomi Muhammadiyah seperti koperasi, Baitul Tanwil Muhammadiyah, industri, perbankan, perusahaan infrastruktur, perikanan, perkebunan, pertambangan dan lainnya.

Beberapa tokoh hadir di antaranya adalah Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, pengusaha nasional Sutrisno Bachir, CEO Trans Corp Chairul Tanjung, Soedomo Sudarnoto (CEO Kopi Kapal Api), Nurhayati Subakat (CEO dan pendiri Kosmetik Wardah), Mohammad Nadjikh (CEO dan pemilik KML Group (Kelola Mina Laut), Din Syamsuddin (mantan Ketua PP Muhammadiyah), Haedar Nasir (Ketua PP Muhammadiyah), Gubernur Jatim Soekarwo, H. Riyanto (Pemilik Hotel Sofyan Syariah, pengusaha minyak dan gas Muhdi PR dan lainnya

Muhammadiyah Mampu Gerakkan Ekonomi Nasional

Muhammadiyah dengan modal jaringannya, sumber daya manusia dan aset yang dimilikinya diyakini memiliki kemampuan untuk menggerakkan perekonomian Indonesia. Dengan sarat Muhammadiyah mampu untuk mensinergikan semua potensinya untuk turut mempengaruhi kebijakan pemerintah, menggerakkan jaringan amal usahanya dan aktivisnya bergerak fokus pada usaha sektor riil.

Hal ini disampaikan oleh ekonom yang juga Pengurus Majelis Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Temu Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM), Sabtu, 12 Desember 2015 di Hotel Garden Palace Surabaya.

Hendri menceritakan, bahwa Pemerintahan Joko Widodo saat ini memang sangat berbeda dengan pemerintahan sebelumnya. Pemerintah sebelumnya fokus pada pengembangan sektor keuangan karena Indonesia memiliki sumber daya alam dan perkebunan yang masih melimpah dan ekonomi dunia sedang tumbuh membaik.

Dampaknya, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat didukung oleh banyaknya eksport sumber daya alam seperti batu bara, hasil hutan, gas, sawit dan lainnya yang harganya di pasar dunia sedang membaik.

Namun kondisi pasar dunia saat ini kurang mendukung untuk eksport barang-barang komoditas hasil sumber daya alam dan perkebunan yang sedang jatuh karena pertumbuhan ekonomi dunia sedang lesu.

Dalam lima tahun ke depan, Muhammadiyah harus mengambil peran-peran ekonomi itu jika ingin ormas Islam ini memainkan peran ekonomi sebagai pilar ketiga yang akan dikembangkan, selain pilar pendidikan dan kesehatan.

Hendri pun menyarankan agar kader Muhammadiyah menekuni empat pilar pengembangan ekonomi dalam nawa cita Presiden Joko Widodo, yakni di sektor maritim, pertanian, infrastruktur, dan sektor energi.

Termasuk juga, Muhammadiyah mengambil peran dalam pengembangan wisata syariah yang saat ini peluangnya sangat besar. Sektor wisata yang menjadi bagian pengembangan sektor maritim, pemerintah sudah membuat peraturan dengan membebaskan visa bagi warga negara asing dari 90 negara.

‘’Pertanyaannya, kalau sudah banyak turis yang datang ke Indonesia, kemudian disuruh apa, melihat apa, membeli apa. Nah inilah yang belum banyak digarap tentang obyek wisata di dalam negeri dan Muhammadiyah bisa berperan dalam pengembangan obyek wisata ini,’’ jelasnya.

Hendri yang juga tim ekonomi Presiden Joko Widodo meminta Muhammadiyah ikut mengambil peran dalam pengembangan desa yang di tahun 2016, pemerintah mengucurkan dana 43 triliun untuk dana desa.

Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia memiliki peluang berperan dalam turun membangun desa, misal membuat ide pengembangan bisnis desa, badan usaha milik desa, hingga pelatihan kewirausahaan ke masyarakat.

Di hari kedua Temu Saudagar Muhammadiyah, panitia juga mendatangkan narasumber lain seperti CEO Wardah Nurhayati Subakat dan CEO Kopi kapal Api Soedomo, konsultan marketing Kresnayana Yahya dan konsultan pengembangan usaha dari Fortia Wempi Sitepu.

Mereka melihat bahwa Muhammadiyah bisa berperan maksimal asalkan bersatu dan bersinergi satu sama lain. Dengan bersinergi, maka Muhammadiyah akan menjadi kekuatan ekonomi yang sangat besar, baik sebagai obyek dan subyek usaha.

(rrd/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed