Follow detikFinance
Jumat 03 Jun 2016, 16:15 WIB

Soal Smart City, Kemenkominfo: Kita Tertinggal Jauh dari Negara Lain

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Soal Smart City, Kemenkominfo: Kita Tertinggal Jauh dari Negara Lain Ilustrasi Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom
Jakarta - Pengembangan kawasan perkotaan yang terintegrasi dengan daerah sekitarnya menjadi salah satu cara untuk mewujudkan konsep smart city. Termasuk penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan elektronifikasi. Infrastruktur dalam komunikasi mau tidak mau menjadi salah satu modal yang harus dimiliki dalam penerapan pengembangan ini.

Namun, ternyata Indonesia dirasa terlalu lama baru berinisiatif mengambil langkah ini. Hal ini diungkapkan oleh Dirjen Penyelenggara Pos & Informatika, Kemenkominfo Ismail dalam acara seminar masih dalam rangkaian acara Rapat Evaluasi Ekonomi dan Keuangan Daerah yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia.

Ismail mengatakan, kualitas pemerataan akses, dan Indonesia yang masih belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri menjadi masalah yang dihadapi oleh pemerintah dalam penyediaan fasilitas tersebut.

"Hardware 99,5% kita masih impor. Di software potensi lokal luar biasa. Tapi masih banyak yang pakai produk luar seperti Whatsapp, We Chat, Kakao. Itu jumlahnya luar biasa," katanya dalam paparan di salah satu seminar di acara Festival Smart Money Smart City di Golf Driving Race Senayan, Jakarta, Jumat (03/06/16).

Ismail juga menambahkan, adanya ketidakmerataan akses fasilitas menjadi masalah utama pemerintah saat ini. Hal ini dirasa sudah terlalu jauh tertinggal dengan negara-negara maju di Asia.

"Permasalahannya di Undang-undang kita yang menetapkan industri komunikasi itu beda dengan lainnya. Negara menyerahkan ke pelaku usaha seperti para operator seperti Telkomsel, Indosat dan lain-lain. Bentuknya bagus seperti itu tapi sebagian besar itu hanya terjadi di kota-kota besar. Operator hanya konsentrasi di yang bisa menjamin investment grade of return-nya paling besar. Mau tidak mau pemerintah harus bergerak cepat akan masalah ini. Kami mengharapkan kita punya perubahan kebijakan," tambahnya.

Ismail juga menjelaskan, Indonesia akan segera terhubung oleh jaringan fiber optik di 2019 yang membuat masalah pemerataan akses ini dapat teratasi karena telah memiliki jaringan fixed broadband. Namun hal ini dirasa masih tertinggal dibandingkan negara maju lainnya.

"Aplikasi tumbuh sangat cepat ini membutuhkan penyaluran infromasi pita lebar. Indonesia terlambat membangun fixed broadband. Negara-negara maju sudah lama punya. Kita baru sekarang gencar-gencarnya melalui Telkom. Kalau hanya bertumpu pada mobile kita akan mengalami kondisi yang separated tertinggal dengan negara-negara lain," paparnya. (drk/drk)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed