Udang Hingga Tuna RI Rajin Diekspor ke AS dan Jepang

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Kamis, 25 Agu 2016 08:08 WIB
Foto: Australia Plus ABC
Jakarta - Kekayaan alam Indonesia ternyata bukan hanya isapan jempol belaka. Hasil laut Indonesia yang melimpah membuat negara-negara di dunia rajin melakukan impor.

Terbukti dari nilai ekspor udang Indonesia mencapai US$ 1 miliar per tahunnya. Adapun negara tujuan ekspor udang terbesar adalah Amerika Serikat (AS), Jepang, dan juga China.

Ketiga negara tersebut rajin mengimpor udang dari Indonesia dalam bentuk kupas dan tanpa kepala di mana AS menguasai 40% tujuan ekspor udang Indonesia.

"Kalau dari sisi volume udang kita paling banyak. Udang kalau ekspor secara volume bentuk potong kepala saja dikupas kemudian beku. Atau potong kepala beku kemudian ekspornya dalam blok dibungkus karton. Produk olehan udang lain seperti tempura. Dari nilai udang paling besar. Paling besar itu ke Amerika Serikat (AS), kedua masih ke Jepang, ketiga sih China," ujar Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Nilanto Perbowo saat berbincang dengan detikFinance di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (24/8/2016).

Sentra penghasil udang di Indonesia tersebar di berbagai titik dari barat hingga timur Indonesia. Udang yang diekspor merupakan udang laut dan udang budidaya.

"Di Indonesia banyak, Lampung, kemudian Makassar, Kalimantan Timur, juga Pulau Jawa udang budidaya. Kalau udang laut terus terang dari Arafura masih paling banyak," kata Nilanto.

Ikan Tuna juga tidak ketinggalan menjadi komoditas ekspor hasil laut yang dikirim ke negeri seberang. Ikan Tuna yang sebagian besar didapatkan di Indonesia timur sebagian besar dieskpor ke AS dalam bentuk beku.

Nilai ekspor Tuna ke AS dan beberapa negara tujuan lainnya mencapai US$ 700 juta per tahunnya.

"Mayoritas ke Amerika Serikat (AS) negara tujuan ekspor kita terbesar ke Amerika Serikat. Kita untuk kelompok tuna beku market sharenya paling gede. Total tuna di atas US$ 700 juta per tahun," kata Nilanto.

Tidak hanya itu, kepiting dan rajungan juga menjadi hasil laut Indonesia yang rajin diekspor ke berbagai negara. Kepiting dan rajungan umumnya diekspor dalam keadaan tanpa cangkang.

Industri pengolahan kepiting dan rajungan di Indonesia juga cukup menjanjikan dengan daya serap tenaga kerja yang cukup tinggi.

"Kelompok ketiga adalah kelompok kepiting sama rajungan. Umumnya di-pasteurized kemudian didinginkan. Sudah menjadi daging saja, cangkangnya nggak makanya itu menyerap tenaga kerja banyak," ungkap Nilanto.

Dari segi volume ekspor hasil laut, rumput laut menjadi juara utama dengan total ekspor lebih dari 1.000 ton per tahun. Rumput laut umumnya dieskpor dalam bentuk kering ke berbagai negara di dunia.

"Kalau dari volume paling besar rumput laut. Karena rumput laut kebanyakan dieskpornya dalam bentuk kering. Sehingga secara tonase besar dia. Secara volume mengalahkan udang kalau nilai masih udang. Rata-rata 1.000 ton per tahun," jelas Nilanto. (ang/ang)