Follow detikFinance
Jumat 17 Feb 2017, 15:41 WIB

Akibat Illegal Fishing, Populasi Tuna RI Mengkhawatirkan

Fadhly F Rachman - detikFinance
Akibat Illegal Fishing, Populasi Tuna RI Mengkhawatirkan Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah banyak menenggelamkan kapal-kapal asing ilegal yang beroperasi di perairan Indonesia. Akibat ulah kapal pencuri tersebut, kondisi perikanan di Indonesia banyak berkurang, khususnya jenis ikan tuna.

Kepala Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Zulficar Mochtar menjelaskan, secara global sektor perikanan telah 85% mengalami over eksploitasi. Sehingga kata dia, apabila tidak dilakukan antisipasi maka perikanan di wilayah RI juga akan terancam.

"Untuk tuna terkait dengan RFMO (Regional Fisheries Management Organizations), karena ini regional sifatnya, tuna itu highly migratory species, jadi dia berpindah kemana-mana, sehingga untuk statusnya itu ada di RFMO," kata dia dalam diskusi bertajuk Tuna Indonesia Dalam Ancaman, Jakarta, Jumat (17/2/2017).

Menurut Zulficar, pencurian dan penangkapan ikan dengan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan merupakan tuntutan dari meningkatnya permintaan ikan secara global. Bahkan dia mengatakan, walaupun telah banyak ditenggelamkan, namun para pencuri ikan masih tetap berani untuk beroperasi.

"Kebutuhan ikan naik, dan kompetisi menangkap ikan kian tinggi. Jika tak dikelola dengan baik, saya setuju tuna kita terancam," ujar Zulficar.

"Sebanyak ribuan kapal asing menangkap ikan secara ilegal di Indonesia, menduplikasi izin di Indonesia. Datanya 7.000-10.000 kapal asing menjarah ikan di Indonesia setiap tahun," sambungnya.

Untuk itu, dia mengatakan guna membenahi tata kelola perikanan, KKP terus melakukan tindak lanjut atas pencurian ikan di perairan RI. Salah satunya ialah dengan konsisten menenggelamkan kapal-kapal asing yang beroperasi secara ilegal. Bahkan dia mengatakan, KKP bakal menenggelamkan 90 kapal asing ilegal yang telah beroperasi, terutama dalam menangkap tuna.

"Itu adalah kapal yang ditangkap pada periode Agustus hingga Desember 2016," ujar dia.

Sementara Peneliti KK dan Koordinator Nasional Tim kajian Tuna pada the Western and Central Pacific Fisheries Commission dan Indian Ocean Tuna Commission (IOTC), Fayakun Satria menjelaskan, terdapat tiga jenis tuna yang menjadi khas tangkap di perairan Indonesia, antara lain jenis Skipjack, Yellowfin, dan Bigeye.

Dia menjelaskan, untuk saat ini, tuna Yellowfin menjadi jenis yang saat ini berada dalam posisi sedikit mengkhawatirkan karena banyaknya illegal fishing. Sementara jenis Skipjack yang paling banyak ada di Indonesia.

"Skipjack atau cakalang itu jenis ikan yang masih dikategorikan aman, itu kalau di kita kalau global catchnya kan 2 sampai 3 juta ton di perairan Pasifik, untuk ikan tunanya di atas 90%. Jenis lain, Yellowfin, Bigeye. Dari tiga ini yang paling banyak adalah Skipjack," kata dia.

"Untuk Yellowfin tuna hasil tangkapan 407.500 ton, sementara potensi lestarinya 406.000 ton. Jadi potensi itu, jumlah ikan yang ada di laut itu indukannya itu 406.000 ton. Jadi yellowfin sudah dalam tahap merah, yaitu berlebihan ditangkapnya," sambung dia.

Untuk itu dia mengatakan, pemerintah harus terus konsisten dengan tegas menjaga wilayah perairan RI dari para pencuri ikan yang beroperasi.

"Jadi jika kita ingin memanfaatkan sumber daya kita, kita harus menjaga kedaulatan karena sangat sulit mengendalikan kapal-kapal yang masuk untuk tidak melakukan pencurian," tuturnya. (mkj/mkj)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed