Follow detikFinance
Kamis, 23 Feb 2017 13:19 WIB

Gundahnya Sri Mulyani, Ada Masalah di Balik Tingginya Ekonomi RI

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Muhammad Idris Foto: Muhammad Idris
Jakarta - Ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh tinggi di tengah banyak negara berkembang yang terseret kondisi pelemahan global. Suka atau tidak suka, posisi tersebut merupakan prestasi yang patut dibanggakan.

Demikian diungkapkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam peluncuran laporan ketimpangan oleh Oxfam di Indonesia (Oxfam) dan International NGO Forum on Indonesia Development (lNFlD) di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (23/2/2017).

"Indonesia sebagai negara emerging country, dalam 10 tahun belakangan memiliki kinerja pertumbuhan ekonomi yang tidak buruk, bahkan kita memiliki pertumbuhan tertinggi dalam satu dekade terakhir, di mana ada krisis ekonomi dunia 2008-2009," ujarnya

"Maka kalau dalam satu tahun belakangan ada negara yang bisa tumbuh tinggi, itu adalah prestasi. Bahkan krisis tahun 2008 bisa menyeret ke depresi. Dengan pertumbuhan 6,1% dalam satu dekade itu adalah achievment yang sangat baik," tegas Sri Mulyani.



Meski demikian, ada masalah yang belum terselesaikan walaupun ekonomi mampu tumbuh tinggi. Adalah tentang ketimpangan, di mana ada jurang yang muncul antara orang kaya dan miskin di dalam negeri akibat pertumbuhan ekonomi yang tidak merata.

"Kita semua tahu bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu cara untuk kurangi kemiskinan. namun pertumbuhan ekonomi tidak otomatis bisa ciptakan kesetaraan," ungkapnya.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,1% maka angka kemiskinan bisa diturunkan sampai 10,5%, pengangguran 5,6%, dan gini rasio 0,39%.

Persoalan ini menjadi sangat serius, ketika korelasi antara pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan selalu berbeda tiap tahunnya. Sri Mulyani menyatakan ketika 2011, setiap 1% pertumbuhan ekonomi maka menurunkan kemiskinan 0,1%.

Setahun setelahnya, pertumbuhan ekonomi 1% hanya mampu menurunkan kemiskinan 0,33%. Dalam dua periode tersebut, ekonomi Indonesia mampu tumbuh tinggi.

"Jadi pada saat yang sama kita harus kritisi," terang Sri Mulyani. (mkj/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed