Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 27 Feb 2017 17:12 WIB

Pemerintah Juga Tawarkan Industri Petrokimia ke Raja Salman

Yulida Medistiara - detikFinance
Foto: Reuters Foto: Reuters
Jakarta - Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud ke Indonesia pada 1-9 Maret 2017. Dalam kunjungannya Raja Salman membawa rombongan yang terdiri dari pengusaha, menteri, dan pangeran.

Pemerintah berharap dalam kunjungan ini bisa meningkatkan peluang investasi masuk ke Indonesia. Dari sektor industri, Kementerian Perindustrian mendorong adanya investasi di bidang petrokimia hal itu karena banyaknya persediaan bahan baku bagi industri dari Arab Saudi misalnya minyak dan gas.

"Kita dorong investasi di petrokimia, mereka master di bidang itu. Jadi kita tarik mengisi petrokimia kita yang hampir 60% bahan baku impor. Di sana kan penghasil banyak minyak dan gas. Kita kan banyak impor dari mereka," ujar Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono, ketika dihubungi detikFinance, Senin (27/2/2017).

Ia mengatakan saat ini pemerintah sedang mendorong pengembangan industri berbasis petrokimia di Cilegon, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur. Diharapkan dengan datangnya rombongan dari Arab Saudi yang membawa 1.500 pengusaha dapat tertarik mengembangkan industri petrokimia terutama untuk mensuplai bahan baku di dalam negeri.

Sementara itu Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII), Harjanto berharap kedatangan rombongan Raja Salman ini dapat berdampak baik bagi investasi industri, terutama bahan baku industri petrokimia yang saat ini sebagian masih impor. Karena saat ini Indonesia membutuhkan sumber dana yang kuat untuk mengembangkan proses hilirisasi industri terutama di petrokimia.

"Di sana salah satunya banyak gasnya dan minyak, kita juga butuh investasi dalam industri yang cukup masif, seperti industri petrokimia itu ada suplai bahan bakunya yang kita sediakan dalam negeri tapi ada juga yang impor," ujarnya.

Selain itu, dia menilai barang-barang consumer goods seperti emas yang banyak diproduksi dalam negeri dapat di ekspor ke Arab Saudi. Hal itu karena di Saudi banyak pengunjung yang umroh maupun naik haji yang suka membeli emas sehingga ini adalah pasar yang berpotensi baik.

"Dari sisi effort barang-barang perhiasan kaya consumer goods punya potensi, jadi kalau orang-orang naik haji suka beli perhiasan, kita ada potensi yang banyak kan produksi emas banyak bisa diekspor ke sana," ujar Harjanto.

Selain itu, produk lainnya yang bisa diekspor misalnya tekstil. Meski begitu dia mengaku belum ada pembicara awalan dengan pihak pemerintah Saudi. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com