Nongkrong Enggak Jajan, Bikin Banyak Sevel Tutup?

Yulida Medistiara - detikFinance
Kamis, 02 Mar 2017 19:58 WIB
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Tiga puluh gerai 7 eleven tutup sejak awal tahun 2017. Salah satu penyebabnya adalah tidak seimbangnya antara beban operasional dan pemasukan yang diterima. Banyaknya pengunjung yang nongkrong tak berarti banyak barang yang laku dibeli.

7 eleven memang didesain untuk market anak muda yang suka nongkrong. Akan tetapi, masalahnya banyak anak muda yang nongkrong ini hanya jajan sedikit, tetapi menghabiskan waktu yang lumayan lama.

"Karena Sevel sudah disetting sedemikian rupa untuk remaja yang beli satu barang bisa belanja berjam-jam. Memang target market mereka itu di situ tapi apakah target market itu bagus untuk kelangsungan hidup perusahaan, konsep itu yang terjadi," ujar Wakil Ketua Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta, ketika dihubungi detikFinance, Kamis (2/3/2017).

Kemudian, ada pula faktor beban biaya listrik dari penggunaan AC, wifi, dan biaya sewa tempat yang harus ditanggung pemilik toko ketika pengunjung memakai fasilitas tersebut. Apabila lebih besar pengeluaran daripada pendapatan, maka perusahaan bisa merugi.

"Bisa saja antara income orang nongkorong itu dengan biaya yang dikeluarkan tidak imbang. Intinya antara in dan out itu kalau tidak bagus makanya itu mungkin tutup. Tapi kalau in atau omzet bagus ngapain tutup, pengeluaran atau out itu listrik wifi, sewa tempat, imbang tidak," ujarnya.

Ia mengatakan, bisa saja di gerai tersebut terdapat konsumen yang berbelanja. Akan tetapi, tidak menutup cost yang dikeluarkan perusahaan untuk membayar bebannya sehingga bisa saja mengevaluasi untuk menutup atau memindahkan ke lokasi yang lebih strategis.

"Kita ini bisa hidup kalau antara in (pemasukan) dan out (pengeluaran) kita seimbang, antara uang masuk dan keluar itu seimbang harus ada profitnya. Nah sekarang itu daya beli tidak bagus-bagus sekali sedangkan cost itu makin tinggi. Itu menyebabkan beberapa teman-teman retailer mengeluhkan hal itu," ujar Tutum.

Selain itu, terdapat perbedaan konsep strategi antara Sevel dengan usaha sejenis lain dan minimarket lainnya. Misalnya pemilihan market di lokasi yang lebih mahal daripada yang lain.

Lalu, ada perbedaan strategi bisnis lainnya antara minimarket dengan usaha konvensional dengan convinience store sperti Sevel.

Misalnya jika minimarket konvensional menyiapkan barang-barang kebutuhan rumah tangga, tetapi Sevel atau sejenisnya memang ditargetkan untuk market anak muda yang suka nongkrong dengan belanja yang sedikit tapi ngongkrong berlama-lama. Barang yang dibeli pun hanya berbelanja untuk keperluan di tempat saja tidak ada yang dibawa pulang.

"Misal ibu-ibu ada tidak yang belanja di Sevel untuk membeli keperluan sehari-hari jadi dia beli ke minimarket, beda target konsumennya. Karena Sevel sudah disetting sedemikian rupa untuk remaja yang beli satu barang bisa belanja berjam-jam. Memang target market mereka itu di situ tapi apakah target market itu bagus untuk kelangsungan hidup perusahaan, konsep itu yang terjadi," ujarnya.

Kemudian, ada pula faktor beban biaya listrik, wifi, dan biaya sewa tempat yang harus ditanggung pemilik toko. Apabila lebih besar pengeluaran daripada pendapatan, maka perusahaan bisa merugi.

"Bisa saja antara income orang nongkorong itu dengan biaya yang dikeluarkan tidak imbang. Intinya antara in dan out itu kalau tidak bagus makanya itu mungkin tutup. Tapi kalau in atau omzet bagus ngapain tutup, pengeluaran atau out itu listrik wifi, sewa tempat, imbang tidak," ujarnya.

Ia menyebut bisa saja ada konsumen yang datang tapi tidak menutup biaya yang harus dikeluarkan pemilik toko. Atau bisa saja salah satunya akibat pelarangan minuman beralkohol dijual di tokonya mengurangi omzet penjualan karena selama ini turis atau pembeli mencari minuman beralkohol di konvinion.

"Bisa saja orang lagi bisnis kan. Ada salah satu yang mendorongnya adalah minuman beralkohol itu tidak boleh jual, kan selama ini orang beli minuman beralkohol hanya di convinion itu. Untuk orang nongkrong atau tempat tertentu kan lebih gampang di sana. sekarang turis mau belanja dimana, kebiasaan orang itu kan beli di convinience kalau minuman beralkohol itu walaupun tidak minum di tempat ya di bawa pulang, sekarang kan tidak ada, omzetnya hilang. Nah bisa saja faktor itu," ujarnya. (dna/dna)