Follow detikFinance
Selasa 07 Mar 2017, 22:00 WIB

Kereta Kencang JKT-SBY Bisa Jadi Solusi Lonjakan Penumpang Pesawat

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Kereta Kencang JKT-SBY Bisa Jadi Solusi Lonjakan Penumpang Pesawat Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Pemerintah masih mengkaji proyek kereta kencang Jakarta-Surabaya. Berdasarkan perhitungan sementara, nilai proyek kereta cepat hasil kajian pemerintah sebesar Rp 22 triliun-Rp 23 triliun, lebih murah dari perhitungan Jepang yang sebesar Rp 39 triliun.

Namun, pemerintah tidak mengutamakan mahal atau murah dalam menggarap proyek kereta kencang, melainkan agar mereka yang menuju Surabaya memakai kereta juga bisa cepat sampai, seperti memakai pesawat. Selain itu, untuk mengantisipasi lonjakan penumpang pesawat yang kerap terjadi setiap tahun, terutama saat hari raya dan libur panjang.

"Kita enggak lihat apakah dari murahnya, tapi apakah persyaratan yang kita tentukan bersama itu akan mengambil porsi terbesar pesawat terbang. Jadi kalau 5 setengah jam, orang pasti akan pindah dari pesawat terbang," ujar Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Atmadji Sumarkidjo, di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Selasa (7/3/2017).

Baca juga: Menlu Jepang ke Kantor Luhut, Bahas Kereta Kencang JKT-SBY dan Patimban

Oleh sebab itu, Kereta Kencang dirancang untuk membawa penumpang lebih cepat sampai ke Surabaya. Biasanya, waktu tempuh Jakarta-Surabaya dengan kereta sekitar 10 jam.

"Kita kan hanya berikan gambaran kira-kira, kita ingin Jakarta-Surabaya kecepatan 160 km, supaya di bawah 5 setengah jam," kata Atmadji

Menurut Atmadji, jika waktu tempuh kereta kencang tak bisa kurang dari 10 jam maka tak akan diminati masyarakat. Alhasil, pesawat tetap menjadi moda transportasi prioritas.

"Tapi kalau lebih dari itu, cenderung tetap naik pesawat saja. Kan kereta api itu keuntungannya adalah enggak usah check in, diperiksa badan, 15 menit sebelumnya kita bisa naik, lalu dari tengah kota," tuturnya.

Hingga saat ini, Atmadji mengatakan, kerja sama dengan Jepang belum sampai ke tahap teknis atau kontrak. Namun ia mengatakan, bahwa pemerintah bakal tetap memprioritaskan Jepang yang mengambil proyek tersebut.

"Ini belum sampai pada tender. Kebijakan kita adalah kita telah membuka pintu buat Jepang, Jepang kita prioritaskan. Jadi belum ada tender, itu kan pada level teknis siapa yang mengerjakan ini, siapa yang mengerjakan itu. Belum sampai situ," tutur Atmadji. (hns/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed