Follow detikFinance
Selasa 21 Mar 2017, 17:54 WIB

Jokowi: Konsumen RI Dirugikan Vaksin Palsu Hingga Makanan Kedaluarsa

Ray Jordan - detikFinance
Jokowi: Konsumen RI Dirugikan Vaksin Palsu Hingga Makanan Kedaluarsa Foto: Muhammad Iqbal/detikcom
Jakarta - Siang ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan rapat terbatas khusus membahas soal perlindungan konsumen di Indonesia. Konsumsi masyarakat berkontribusi besar terhadap perekonomian dalam negeri.

Membuka rapat tersebut, Jokowi mengatakan, dalam 5 tahun terakhir, konsumsi masyarakat menyumbang 55,94% dari pendapatan domestik bruto (PDB) di Indonesia. Sehingga sangat penting menjaga kepercayaan masyarakat untuk terus melakukan konsumsi di dalam negeri.

"Perekonomian nasional mayoritas masih digerakkan oleh konsumsi. Selain itu negara kita memiliki jumlah penduduk yang sangat besar, yang berarti potensi pasar yang juga sangat besar dan juga sekaligus konsumen yang amat besar pula. Untuk itu edukasi dan perlindungan terhadap konsumen harus menjadi perhatian kita bersama," tutur Jokowi saat membuka rapat di Istana Negara, Jakarta, Selasa (21/3/2017).

Perlindungan dan edukasi konsumen di dalam negeri menjadi penting, karena banyaknya kasus-kasus yang merugikan bahkan sampai membahayakan konsumen.

"Beberapa contoh di antaranya terkait obat atau vaksin palsu, makanan di pasaran sudah kedaluarsa. Mal praktik di bidang pelayanan kesehatan, keamanan, dan kenyamanan transportasi, serta pembobolan kartu kredit dalam transaksi e-commerce," tegas Jokowi.

Dia mengatakan, indeks kepercayaan konsumen di Indonesia masih rendah, yaitu 30,86%. Jauh dibandingkan oleh Eropa yang sudah mencapai 51,31%. Kebiasaan konsumen di Indonesia untuk mengadu juga masih rendah. Angkanya hanya 4,1 pengaduan konsumen dari setiap 1 juta penduduk Indonesia. Sementara di Korea ada 64 aduan konsumen dari setiap penduduknya.

"Edukasi konsumen juga diperlukan untuk membuat perilaku konsumen menjadi konsumen cerdas dan konsumen bijaksana, dan perilaku konsumsinya diarahkan untuk tidak terjebak pada penyakit konsumerisme, serta mampu untuk melakukan konsumsi yang bersifat jangka panjang mulai gemar menabung atau diinvestasikan kepada sektor sektor produktif," paparnya.

Jokowi juga membahas soal masih rendahnya tingkat kepatuhan produsen di dalam negeri untuk membuat produk yang sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI). Baru 42% barang di pasaran yang sesuai dengan SNI.

"Terakhir saya minta lembaga-lembaga Perlindungan Konsumen akan lebih pekerja keras, sehingga betul-betul bisa dirasakan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat, karena dari data yang saya terima hanya 22,2% yang mengenal dan mengetahui fungsi lembaga perlindungan konsumen," kata Jokowi. (wdl/mkl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed