Follow detikFinance
Selasa 18 Apr 2017, 18:00 WIB

Bantu Nelayan Tangkap Ikan, KKP Gelontorkan Rp 764 M Tahun Ini

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Bantu Nelayan Tangkap Ikan, KKP Gelontorkan Rp 764 M Tahun Ini Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) menyiapkan anggaran sebesar Rp 764 miliar tahun ini untuk bantuan sarana penangkapan ikan. Alokasi tersebut terdiri dari Rp 467 miliar untuk bantuan 1.068 kapal, Rp 79 miliar untuk 2.990 paket Alat Penangkapan Ikan (API) dan sisanya untuk 20 lokasi bengkel mesin, dan 400 sertifikat untuk nahkoda dan kapal.

Adapun bantuan 1.065 unit kapal penangkapan ikan terdiri dari 449 unit kapal 3 GT, 498 unit kapal 5 GT, 92 unit kapal 10 GT, 3 unit kapal 20 GT, 20 unit kapal 30 GT, dan 3 unit kapal 120 GT dari baja, dan 3 unit kapal pengangkut berukuran 100 GT yang juga terbuat dari baja. Bantuan ini akan disebarkan ke 27 provinsi di 105 kabupaten dan kota.

"Tahun ini kita akan adakan kapal lagi 1.068. Tentu saja sebagai bagian dari pemerintah, kita belajar dari pengalaman, kelemahan-kelemahan sebelumnya bagaimana akan kita atasi agar bantuan bisa berjalan dengan baik," kata Dirjen Perikanan Tangkap, Sjarief Widjaja dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Selasa (18/4/2017).

Untuk melengkapi kapal bantuan tersebut, dibangun pula alat penangkapan ikan sebanyak 2.990 paket dengan total anggaran Rp 79 miliar. Bantuan alat penangkapan ikan itu terdiri dari gillnet dengan 59 spesifikasi, trammelnet 2 spesifikasi, rawai hanyut 3 spesifikasi, rawai dasar 3 spesifikasi, bubu 5 spesifiksi, pancing tonda 1 spesifikasi, pole and line 1 spesifikasi dan handline 15 spesifikasi. Di samping bantuan alat penangkap ikan tersebut, untuk memudahkan dan memfasilitasi nelayan memperbaiki mesin dan kapalnya disiapkan pula bengkel di 20 Pelabuhan.

Pemberian bantuan sarana penangkapan ikan diharapkan bisa meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat serta mengoptimalkan sumber daya perikanan tangkap.

"Potensi perikanan Indonesia meningkat, sejak diberlakukannya moratorium kapal asing, pemberantasan IUU fishing yang masif serta pelarangan alat penangkapan ikan yang merusak lingkungan. Hal ini juga berkontribusi meningkatkan hasil tangkapan nelayan," tutur dia.

Adapun proses pengadaan kapal perikanan dan alat penangkapan ikan tersebut akan menggunakan mekanisme pelelangan umum dan e-katalog bekerja sama dengan lembaga kebijakan pengadaan barang/jasa pemerintah (LKPP) untuk mengedepankan transparansi, akuntabilitas, efektivitas dan efisiensi.

Sasaran pengadaan paket bantuan kapal perikanan ini adalah terbangunnya kapal perikanan berbahan fiberglass yang Iaik laut, Iaik tangkap dan Iaik simpan sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan serta memperhatikan kearifan lokal dan penyerahan yang tepat waktu.

Sementara itu, guna membenahi kapal-kapal bantuan yang mangkrak atau tidak sesuai dengan spesifikasi sebelumnya, KKP akan memperbaiki dan mendistribusikan ulang dengan menggandeng mitra strategis seperti BUMN Perikanan yang juga akan bekerjasama dengan koperasi-koperasi di daerah.

"Nantinya kapal-kapal tersebut akan mengisi perairan Indonesia, perairan kita harus ditutup dengan kapal-kapal Indonesia untuk mengatasi illegal fishing dan juga menjaga perbatasan," tukasnya.

Banyak Kesulitan Salurkan Bantuan

Dalam tahap pelaksanaannya bantuan, KKP menemui beberapa hambatan hingga kapal bisa terbangun dan disalurkan, termasuk juga untuk alat tangkap.

"Begitu banyak galangan kapal, tapi masih tradisional. Mereka mampu bikin kapal tapi enggak punya manajemen pembangunan yang bagus. Ternyata untuk mengganti merevitalisasi kapal Indonesia itu butuh effort yang tidak kecil," kata Dirjen Perikanan Tangkap, Sjarief Widjaja dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Selasa (18/4/2017).

Beberapa kendala yang ditemui di antaranya dari aspek dokumen kapal yang tidak diurus, karena nelayan penerima tidak ada biaya dan kurangnya waktu. Lalu nelayan penerima juga tidak memiliki kemampuan untuk mengoperasikan kapal berukuran lebih dari 30 GT, sehingga pengoperasiannya menjadi mangkrak.

Selaim itu kemampuan modal galangan kapal yang minim, belum terstandarisasinya galangan kapal, hingga jumlah galangan di e-katalog yang terbatas dan sebarannya tak merata juga turut menjadi hambatan dalam realisasi penyaluran bantuan.

"Keterlambatan ketersediaan mesin dan pasokan material yang terbatas karena bahannya bergantung sama impor juga jadi kendala," tutur Sjarief.

Untuk itu, usai mengevaluasi pelaksanaan program bantuan tersebut, KKP menyiapkan tindak lanjut agar program bantuan kapal dan alat tangkap tahun ini tak lagi mangkrak. Di antaranya memetakan kebutuhan pengadaan bantuan oleh pemerintah dan masing-masing nelayan.

KKP juga mendorong semua pabrik jaring agar masuk e-catalog, karena saat ini baru ada 4 pabrik yang ada di e-catalogue. Sehingga spesifikasi yang tampil di e-catalogue LKPP juga menjadi bertambah dari 40 menjadi 89 jenis.

Tak hanya fokus pada pengadaan fisik kapalnya saja, KKP juga mempersiapkan kapasitas nelayannya serta permodalan dengan melibatkan lembaga permodalan maupun mitra strategis lainnya agar bantuan kapal yang diberikan benar-benar bermanfaat, tepat guna dan tepat sasaran.

"Ini semua harus kita bantu. Ternyata mereka (nelayan) harus dilatih. Jadi cukup banyak yang harus kita kerjakan satu per satu, kalau ada 700 kelompok, berarti ada 700 kelompok yang harus didampingi satu per satu. Alat tangkap juga begitu. Ada 89 jenis alat tangkap. Jadi bisa dibayangkan bangun delapan ribu unit dengan 89 jenis, dan supplier-nya hanya 5," ucap dia.

"Jadi mohon maaf yang belum terealisasi itu, kita baru start sekarang. Pada prinsipnya kita ingin melakukan revitalisasi armada penangkapan ikan nasional. Kita ingin keberpihakan kepada nelayan kecil. Sehingga mereka punya kapasitas yang sama untuk ke laut dengan alat tangkap yang baik, sehingga memperoleh hasil yang baik," pungkasnya.

(ang/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed