Follow detikFinance
Kamis 20 Apr 2017, 11:46 WIB

Sri Mulyani Pamer Ekonomi RI di Depan Investor AS

Maikel Jefriando - detikFinance
Sri Mulyani Pamer Ekonomi RI di Depan Investor AS Foto: Dok. Kemenkeu
Washington - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam sepekan ke depan berada di Washington DC, Amerika Serikat (AS) untuk menghadiri berbagai acara. Salah satunya yang dijalani hari ini, bertemu dengan investor asal AS.

Acara dalam bentuk seminar ini diselenggarakan oleh The United Stated-Indonesia Society (USINDO). Sri Mulyani bertindak sebagai pembicara untuk tema Indonesia: Steering Through The Global Headwind, Unlocking The Domestic Potentials'.

Sekitar 45 menit, Sri Mulyani memaparkan kondisi ekonomi Indonesia terkini. Dimulai dengan berbagai program yang sudah dijalankan oleh pemerintah Indonesia dalam kisaran tiga tahun terakhir.

"Presiden Jokowi bekerja penuh untuk bisa menciptakan stabilitas ekonomi dan inklusifitas," kata Sri Mulyani, Kamis (20/4/2017).
Gaya Sri Mulyani Pamer Ekonomi RI di Depan Investor ASFoto: Dok. Kemenkeu
Sri Mulyani menjelaskan, upaya pemerintah sangat berat di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Selepas taper tantrum yang menghadang banyak negara, seperti Indonesia pada 2013 silam. Selanjutnya Inggris keluar dari Uni Eropa atau dikenal dengan nama Brexit, devaluasi mata uang China hingga volatilitas pasar keuangan pasca terpilihnya Presiden AS Donald Trump.

Pada sisi lain, harga komoditas yang anjlok membuat banyak negara berkembang penghasil komoditas terkena dampak cukup serius. Bahkan hingga terjun ke level resesi. Indonesia, untungnya bisa bisa tetap bertahan dan tumbuh positif.

"Perekonomian Indonesia tetap baik pasca banyak persoalan yang terjadi di dunia," tegas Sri Mulyani.

Langkah yang ditempuh pemerintah adalah dengan membuat kebijakan yang terukur. Dari menciptakan fundamental ekonomi yang kuat, reformasi fiskal, pengelolaan utang dan menjaga efisit anggaran tetap pada batas yang baik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Di samping itu, defisit transaksi berjalan berhasil diturunkan pada level yang aman, yakni 2% terhadap PDB. Inflasi juga sukses dijaga pada posisi sekitar 3% atau lebih rendah sejak 1999, ketika ada krisis moneter. Hal tersebut juga mampu mendorong konsumsi masyarakat tetap tumbuh.

"Anda bisa melihat buktinya, kita bisa menciptakan fundamental yang kuat di tengah ketidakpastian global," imbuhnya.

Pada sisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Sri Mulyani memastikan pengelolaan yang kredibel. Reformasi dijalankan sejak awal pemerintahan Presiden Jokowi, dengan memangkas subsidi energi untuk dialihkan kepada pembangunan infrastruktur dan perlindungan sosial.

Memang diakui Sri Mulyani, ada kelemahan dalam penerimaan pajak pada dua tahun terakhir. Seiring dengan perekonomian yang melambat, penerimaan pajak juga tidak bisa tumbuh seperti yang diharapkan.

Untuk itu dijalankan program pengampunan pajak atau tax amnesty dengan tujuan mengumpulkan basis data dari masyarakat yang selama ini tidak patuh dalam pembayaran sekaligus melaporkan pajak.

Realisasi penerimaan amnesti pajak sesuai Surat Setoran Pajak (SSP) mencapai Rp 134,99 triliun, dengan uang tebusan sebesar Rp 114,23 triliun, pembayaran tunggakan Rp 19,02 triliun dan pembayaran bukti permulaan sebesar Rp 1,75 triliun.

Sedangkan dari komposisi harta, terdapat deklarasi dalam negeri sebesar Rp 3.697,94 triliun, deklarasi luar negeri sebesar Rp 1.036,37 triliun, dan repatriasi sebesar Rp 122,3 triliun. Sementara itu ada tambahan 52.757 wajib pajak (WP) baru, dari total peserta tax amnesty 972.530 WP.

"Tax amnesty yang kita dijalankan disebut sebagai yang terbaik di dunia," kata Sri Mulyani.

Kredibilitas APBN, kata Sri Mulyani juga akan ditunjukkan melalui belanja yang terukur, di samping reformasi fiskal yang sudah dijalankan. Setiap rupiah yang dikeluarkan oleh pemerintah akan benar-benar ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Jadi APBN yang kita miliki benar-benar berfungsi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Strategi saya adalah dengan meningkatkan penerimaan negara dan disalurkan dalam bentuk belanja negara yang efektif," tandasnya. (mkj/dnl)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed