Follow detikFinance
Rabu 09 Aug 2017, 20:03 WIB

Kepala Bappenas: 50 Juta Orang RI Sudah Biasa Belanja Online

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Kepala Bappenas: 50 Juta Orang RI Sudah Biasa Belanja Online Foto: Muhammad Idris/detikFinance
Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro, mengatakan bahwa sekitar seperlima penduduk Indonesia sudah terbiasa berbelanja online.

Pola belanja masyarakat mulai bergeser, banyak orang yang tidak lagi pergi berbelanja ke toko-toko, hanya membeli barang via online saja.


"Pengguna internet atau digital ekonomi di Indonesia yang sudah terbiasa belanja online 50 juta orang, jadi seperlima penduduk Indonesia sudah terpapar atau terekspos melakukan belanja online," kata Bambang saat ditemui di Gedung BI, Jakarta, Rabu (9/8/2017).

Ia menuturkan, sekarang orang bisa berbelanja berbagai macam barang di toko online dan itu menjadi kebiasaan. Sudah banyak sekali transaksi online untuk membeli baju, elektronik, tiket, dan sebagainya.

"50 juta tentu besar, kita tidak bicara satu transaksi selesai, ada yang menjadi kebiasaan misalnya pesan taksi pakai uber, pesan makanan pakai Gojek, plus belanja online yang lain. Ada saudara saya yang saya tahu bahkan beli baju tidak pernah ke mal," ujarnya.

Efisiensi waktu, biaya, dan tenaga membuat banyak orang beralih ke ekonomi digital. "Untuk orang Jakarta, siapa yang rela macet-macetan di Jakarta kalau itu bukan untuk kerja? Ya mendingan, kalau bentuk badannya normal tidak seperti saya ya beli bajunya melalui online saja karena ukurannya sudah standar. Demikian juga beli makanan, sekarang tidak peduli makanan ada di mana, asal ada masuk di Go Food bisa dipesan. Pola sudah berubah, semakin macet sebuah kota seperti Jakarta, Bandung, maka orang semakin malas," katanya.

Perubahan ini terjadi di mana-mana. Di Amerika Serikat (AS) bahkan gerai-gerai hypermart banyak yang tutup gara-gara orang lebih suka berbelanja via online.


"Kebetulan bulan lalu saya mewakili pemerintah ke UN (United Nations). Saya ada di New York ternyata ceritanya sama, banyak retail rermasuk hypermart tutup. Yang namanya departement store jumlah outlet sudah berkurang drastis. Ternyata kalau di sana penyebabnya bukan daya beli masyarakat melemah. Tapi mereka cerdas, mereka tahu bahwa yang terjadi pergeseran yang masif dari belanja fisik jadi belanja online," ucapnya.

Menurut Bambang, transaksi-transaksi online ini harus didata juga oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Data BPS yang menyebut konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2017 hanya tumbuh tipis sebesar 4,95% mungkin tidak valid. Sebab, data-data transaksi online tidak tercatat, perlu perbaikan dalam pendataan.

"Mungkin ada penurunan daya beli, kita tidak bisa pungkiri kalau konsumsi turun. Pertanyaanya sekarang BPS sudah menangkap belum semua transaksi konsumsi yang terjadi? Dengan makin besar porsi online, tanpa menyalahkan online-nya, tapi kalau BPS masih pakai cara lama dan belum bisa masuk data ke digital tadi, saya khawatirnya belum semua transkasi tertangkap di data statistik," tutupnya. (mca/mkj)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed