Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 22 Agu 2017 20:50 WIB

RI Beli Sukhoi Rusia, Menhan Pastikan Tak Ada Masalah dengan AS

Dewi Irmasari - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan RI (Kemenhan RI) dan Kementerian Perdagangan RI (Kemendag) sepakat melakukan imbal dagang pesawat Sukhoi SU-35 dari Rusia dengan komoditas perkebunan Indonesia. Menteri Pertahanan RI (Menhan RI) Ryamizard Ryacudu menyatakan Indonesia tidak khawatir dengan Amerika Serikat (AS) terkait pembelian pesawat Sukhoi SU-35.

Seperti diketahui, Rusia saat ini tengah menghadapi embargo perdagangan dari AS dan Uni Eropa terkait isu keamanan dan teritorial. Rusia lalu membalas dengan memberikan sanksi pembatasan impor dari negara-negara tersebut.

"Enggak ada. Makanya kita sama semua orang baik," ujar Ryamizard usai konferensi pers bersama Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, di Kementerian Pertahanan, Selasa (22/8/2017).


Ryamizard menyebut hubungan Indonesia dan AS baik-baik saja. Bahkan, menurutnya Presiden Jokowi ditawari untuk membeli pesawat.

"Saya sama Amerika itu baik-baik. Malahan tawarkan waktu ketemu Jokowi bilang, 'Jokowi, beli pesawat kita'," kata Ryamizard.

Kesepakatan imbal dagang ini bersifat sangat berarti bagi Rusia. Pasalnya, dampak dari embargo itu, Rusia membutuhkan sumber alternatif untuk memenuhi kebutuhan pangan.


Sebagai informasi, pembelian alat peralatan pertahanan keamanan (Alpalhankam) lewat barter ini merupakan pertamakalinya dilakukan dengan aturan baru, yakni UU Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, dan Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2014 tentang Mekanisme Imbal Dagang.

Dalam regulasi itu, setiap pengadaan Alpanhankam harus memenuhi minimal 85% kandungan lokal (ofset). Sementara dalam pembelian Sukhoi Su-35, Rusia hanya sanggup memenuhi ofset 35% dari kewajiban 85%, sehingga pembelian pesawat tempur tersebut harus dibarengi dengan kewajiban Rusia membeli atau imbal beli sebanyak 50% dari nilai kontrak sebesar US$ 1,14 miliar atau sekitar Rp 15,16 triliun.

Saat ini kedua negara sudah menyepakati barter 50% dari nilai pesawat Sukhoi dengan komoditas perkebunan lewat MoU, dan akan diteruskan menjadi perjanjian jual beli setelah pembahasan jenis komoditas, sekaligus valuasi harganya, disepakati. Dua perusahaan ditunjuk untuk melakukan barter tersebut yakni PT PPI dan Rostec dari Rusia. (irm/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com