Follow detikFinance
Senin 11 Sep 2017, 18:14 WIB

Sektor Kreatif Bisa Sumbang Rp 1.000 Triliun ke Ekonomi RI

Fadhly F Rachman - detikFinance
Sektor Kreatif Bisa Sumbang Rp 1.000 Triliun ke Ekonomi RI Triawan Munaf (Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, memperkirakan kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) 2017 sekitar Rp 1.000 triliun.

"Data yang ada di kita tahun 2015, kontribusi ekonomi kreatif itu Rp 852 triliun rupiah. Itu 2015. Dari peningkatan, secara rata-rata dari tahun ke tahun ada Rp 70 triliun. Jadi kalau Rp 70 triliun itu terus terjadi setiap tahun, dan saya yakin bakal lebih, di akhir tahun 2017 akan didapat angka Rp 1.000 triliun kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB, itu minimal," kata Triawan di kantornya, Jakarta, Senin (11/9/2017).

Dirinya menyatakan, saat ini bidang kuliner memiliki kontribusi terbesar yakni sekitar 41,69% dari keseluruhan sektor ekonomi kreatif. Posisi kedua disusul fashion sebesar 18,85% kemudian disusul kriya 15,70%.

"Itu tiga terbesar ya, dan saya yakin peningkatan mereka juga akan lebih baik lagi," terangnya.

Selain itu, kata Triawan, saat ini pihaknya juga tengah mendorong sektor-sektor lain yang memiliki potensi lebih terhadap PDB. Contohnya seperti seperti industri film, musik, hingga apps dan game. Sektor-sektor tersebut tengah didorong untuk menjadi prioritas.

"Bukan saja peningkatan kapasitas dan kemampuan mereka untuk berkontribusi secara ekonomis, tapi juga penghitungan yang ada di BPS, karena menurut kami masih perlu dilakukan revisi-revisi terhadap cara menghitung kontribusi mereka," kata dia.

"Misalnya di bidang musik, kita ingin penjualan kaset CD, tapi juga download musik, juga pertunjukan para artis, band, itu kan juga mengandung nilai ekonomi, dan itu belum dihitung. Saya yakin angka-angka di BPS itu bisa lebih baik lagi. Jadi angka Rp 1.000 triliun itu menurut saya masih sangat konservatif," sambungnya.

Lebih lanjut dirinya menambahkan, masih terdapat sejumlah tantangan untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif. Salah satunya ialah masalah ekosistem yang perlu diperbaiki.

"Ekosistem itu termasuk juga regulasi atau dibutuhkannya deregulasi bagi ekosistem yang kita ciptakan di setiap subsektor. Contohnya Kita masih ingat sudah berhasil waktu itu, itu tentang film, dimana kita berhasil mencabut daftar negatif investasi tentang film. Sehingga sekarang investasi itu film dibuka untuk investor dalam negeri dan luar negeri. Itu yang dibutuhkan untuk membangun bioskop-bioskop, kemampuan produksi, dan juga distribusi, karena itulah yang dibutuhkan untuk film. Nah, di setiap subsektor ada masalah-masalah seperti itu," tukasnya. (dna/dna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed