Follow detikFinance
Rabu 20 Sep 2017, 18:30 WIB

Tak Ada Smartphone di Aturan SPT, Ini Penjelasan Ditjen Pajak

Hendra Kusuma - detikFinance
Tak Ada Smartphone di Aturan SPT, Ini Penjelasan Ditjen Pajak Foto: istimewa
Jakarta - Smartphone memang tidak tertulis jelas dalam aturan perpajakan di Indonesia untuk masuk ke dalam laporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan. Begitu juga dengan rumah, sepeda motor, maupun tas mewah.

Meski demikian, daftar barang tersebut dianggap masuk dalam kategori harta. Sehingga wajib dilaporkan dalam SPT.

Demikianlah diungkapkan Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas Ditjen Pajak, Hestu Yoga Saksama di Kantor Pusat Ditjen Pajak, Rabu (20/9/2017).

Hestu menyebutkan, yang wajib dilaporkan wajib pajak dalam SPT adalah kas dan setara kas berdasarkan nominal yang dimiliki.

"Penilaian harta, di dalam PP kalau kas dan setara kas nilai nominal, selain itu. Berdasarkan hasil penilaian WP," kata Hestu.

Selain itu, dalam SPT juga wajib dilaporkan harta lainnya seperti properti, kendaraan bermotor, hingga smartphone sekalipun. "Nilai yang ditetapkan oleh pemerintah NJOP/NJKB, pada prinsipnuya semua harta wajib dilaporkan," tambah dia.

Lebih lanjut Hestu memaparkan, bahkan cara melaporkannya dengan mengumpulkan suatu jenis harta yang sama juga bisa dilakukan. "Bisa dikumpulkan, makanya kalau ikuti misalnya smartphone itu dari 2015 dalam pembetulan juga bisa," jelas dia.

Meski demikian, Ditjen Pajak lebih mengutamakan harta-harta seperti properti, kendaraan. Mengenai batasan harga untuk harta yang wajib dilaporkan dalam SPT tidak diatur secara pasti.

"Tidak ada ketentuan yang rinci, jadi tidak perlu khawatir, kita sekali lagi data yang kita periksa kita validasi betul, kita terapkan betul, lagian pemeriksaan juga enggak meriksa kamar isinya ada apa saja," tukas dia. (mkj/mkj)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed