Follow detikFinance
Selasa 03 Oct 2017, 08:25 WIB

Donald Trump Mau Pangkas Tarif Pajak, Positif atau Negatif?

Hendra Kusuma - detikFinance
Donald Trump Mau Pangkas Tarif Pajak, Positif atau Negatif? Foto: REUTERS/Yuri Gripas
Jakarta - Pemerintahan Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump akan melakukan reformasi sektor perpajakan. Salah satu yang akan diterapkan adalah memangkas tarif pajak, baik pajak korporasi maupun pajak pendapatan orang pribadi, dari 35% menjadi 20%.

Menanggapi hal itu, Pengamat Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetiantono, mengakui kebijakan tersebut langsung direspons oleh penguatan dolar AS kepada sejumlah mata uang utama, termasuk rupiah. Nilai tukar dolar AS tembus Rp 13.500.

Namun, Tony berpandangan, rencana pemangkasan pajak yang akan dilakukan oleh Trump memiliki dua implikasi, positif dan negatif.

"Trump akan memangkas tarif pajak, baik pajak korporasi maupun pajak pendapatan perseorangan, dari 35% menjadi 20%. Rencana ini sebenarnya punya dua implikasi, positif dan negatif," kata Tony saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Selasa (3/10/2017).

Untuk dampak positifnya, Tony menyebutkan, masyarakat akan memiliki daya beli yang lebih tinggi (disposable income) yang akan mendorong peningkatan multiplier effect dari sisi konsumsi masyarakat (consumtion spending).

"Korporasi juga akan lebih bersemangat untuk menaikkan kapasitas produksinya karena membayar pajak lebih rendah, sehingga dananya bisa dipakai untuk investasi. Hal ini akan sangat positif bagi perekonomian AS," jelas Tony.

Dari sisi negatifnya, Tony mengungkapkan, adanya penurunan penerimaan pemerintahan AS akibat pemangkasan pajak tersebut, yang pasti berdampak buruk bagi sisi fiskal dan akan ada utang tambahan yang ditarik.

"Perkiraannya, dalam beberapa tahun ke depan pemerintah AS butuh utang US$ 5,8 triliun untuk menambal APBN. Ini jumlah besar yang masih tanda tanya bagaimana akan berdampak terhadap ekonomi AS," tambah dia.

Namun di sisi lain, lanjut Tony, dari aspek moneter, bank sentral AS yaitu Federal Reserve (The Fed) akan mulai melepas lagi surat-surat berharga pemerintah AS (T-bills dan T-bonds) yang dibelinya selama periode quantitative easing 2009-2013, sejumlah US$ 4,5 triliun.

Menurut dia, jika surat berharga ini dilepas secara gradual atau bertahap, maka akan ada aliran likuiditas dari seluruh dunia ke kantungnya The Fed. Jadi akan ada penyerapan likuiditas dolar dari seluruh dunia ke AS.

"Jumlah peredaran dolar pun berkurang, akibatnya dolar pun menguat terhadap mata uang seluruh dunia, termasuk rupiah. Maka, rupiah pun melemah sepekan terakhir ini," jelas dia.

Meski demikian, Tony berpandangan, penguatan dolar terhadap mata uang utama di dunia, termasuk Indonesia tidak akan berlangsung lama.

"Mestinya tidak lama, karena agak bersifat spekulatif. Kurang didukung underlying yang kuat. Akan terjadi koreksi, profit taking," tukas dia. (wdl/wdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed