Follow detikFinance
Selasa 14 Nov 2017, 14:27 WIB

Menerka Nasib Ekonomi RI di Tengah Gonjang Ganjing Global

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Menerka Nasib Ekonomi RI di Tengah Gonjang Ganjing Global Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - PT Bank UOB Indonesia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,3% di 2018, lebih rendah dari asumsi pemerintah pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sebesar 5,4%.

Ekonom Senior Destry Damayanti memiliki proyeksi yang tidak jauh berbeda. Destry mematok rentang pertumbuhan 5,2-5,3% dengan mempertimbangkan tantangan dari luar dan dalam negeri.

Dari luar negeri yang harus diwaspadai adalah dengan arah normalisasi ekonomi Amerika Serikat (AS).

"Lalu negara seperti Amerika Serikat (AS) akan menciptakan ekonomi berdasarkan warganya sendiri yakni America First. Mereka membuat aturan yang linier untuk Americans untuk menarik dananya kembali ke Amerika. Nah ini yang jadi tantangan buat kita, karena banyak uang AS yang ada di Indonesia," kata Destry dalam acara UOB Indonesia's Economic Outlook 2018, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (14/11/2017).

Berikutnya Indonesia juga harus waspada dengan perubahan arah ekonomi China. Selama tiga tahun terakhir pertumbuhan hanya di bawah 10%. Namun karena kebijakan yang diambil China tidak bermuatan politik maka dianggap baik untuk Indonesia.

Saat ini, Indonesia dinilai masih mengandalkan komoditas. Meskipun saat ini harga sudah cukup baik. Harga komoditas akan mempengaruhi perekonomian nasional. "Sebenarnya yang harus dibenahi ya jangan komoditas terus, harus digeser. Pemerintah juga harus geser konsumsi ke investasi," jelas dia.

Destry menjelaskan, saat ini anggaran dan pendapatan belanja negara (APBN) sudah lebih produktif. Diharapkan dengan suku bunga yang terus turun bisa menggerakan perekonomian.

Ekonom PT Bank UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja menjelaskan, saat ini Indonesia memiliki peringkat yang tidak terlalu buruk dalam forex exchange return. Namun memang dari sisi mata uang masih tertolong dengan suku bunga.

Dia menjelaskan, tahun depan perekonomian diprediksi akan lebih baik. "GDP growth akan kembali membaik didorong oleh infrastruktur dan inflasi yang stabil," jelas dia.

Enrico mengatakan untuk eksternal atau global akan baik namun diprediksi akan berkurangnya impor karena konsumsi masyarakat yang melemah. (mkj/mkj)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed