Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 28 Nov 2017 12:34 WIB

Ekonomi RI Tahun Ini Diperkirakan Tak Capai 5,1%

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan tidak mencapai level 5,1%. Pasalnya ada beberapa indikator yang tidak cukup memuaskan dalam pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Salah satunya, konsumsi rumah tangga yang berkontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi mengalami pelemahan pada laporan kuartal III-2017. Konsumsi rumah tangga pada kuartal III-2017 4,93% atau turun tipis dibandingkan kuartal I-2017 yang sebesar 4,95%, dan kuartal II-2017 sebesar 4,94%.

"Perkiraan kami mungkin tahun ini kita tidak akan sampai 5,1%, sedikit di bawah 5,1%. Permasalahannya di 2017 adalah konsumsi rumah tangga karena share-nya cukup besar," kata Ekonom Hendri Saparini dalam acara Core Economic Outlook 2018 di JS Luwansa, Jakarta Selatan, Selasa (28/11/2017).

Hendri memperkirakan, menjelang tutup tahun 2017 masih ada kekhawatiran pelemahan konsumsi rumah tangga jika ada kemungkinan kenaikan harga BBM, tarif listrik, dan gas. Selain itu, jika ada pemangkasan jumlah penerima subsidi listrik 900 VA dikhawatirkan akan mengurangi tingkat konsumsi masyarakat yang berimbas ke pertumbuhan ekonomi.

"Kami meyakini itu akan mengurangi konsumsi rumah tangga terutama di kelompok terbawah. Jadi penyebab utama penurunan konsumsi rumah tangga adalah kenaikan harga listrik. Kita sudah sampaikan hal itu, kalau supply gas dari gas melon ke gas pink. Memang tidak ada kenaikan harga, tapi supply-nya berkurang. Jadi dampak ke masyarakat cukup signifikan," kata Hendri.

"Jadi yang terpenting kita tidak mendebat ada perlambatan pertumbuhan konsumsi. Yang terpenting bagaimana menciptakan kebijakan yang bisa meningaktkan konsumsi masyarakat. Itu yang perlu untuk dilakukan," tambah Hendri.

Kebijakan pajak juga diharapkan tidak membuat masyarakat takut membelanjakan uangnya yang berpengaruh ke tingkat konsumsi masyarakat.

"Yang penting adalah bagaimana kita menaikkan lagi agar masyarakat berkonsumsi kembali. Kebijakan pajak membuat kelas atas menunggu untuk meningkatkan konsumsi mereka," tutur Hendri.

Proyeksi Ekonomi 2018

Ia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018 berada di level 5,1-5,2% dengan tingkat inflasi 3,5% dan nilai tukar berada di level Rp 13.500 per dolar AS.

Tantangan ekonomi di tahun mendatang diperkirakan semakin berat dengan adanya tahun politik digelarnya Pilkada serentak dan persiapan Pemilu 2019.

"Lingkungan domestik, tahun 2018-2019 ternyata adalah tahun politik yang akan dimulai dengan lebih cepat. Karena 2018 kita akan hadapi pilkada 17 provinsi, 39 kota dan ada 66% PDB kita itu Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera, semua pusat ekonomi kita akan menghadapi pilkada," ujar Hendri.

Ekonomi RI Tahun Ini Diperkirakan Tak Capai 5,1%Foto: Tim Infografis: Zaki Alfarabi


Penerimaan pajak yang didapatkan juga perlu dialokasikan untuk mendorong kualitas pendidikan di Indonesia. Selain itu, inovasi pembiayaan juga perlu dilakukan lagi lebih banyak.

"Kita perlu lebih banyak lagi agar financial inclusion tidak hanya pro terhadap nasabah atau masyarakat tetapi juga mereka yang sudah memiliki lembaga pembiayaan yang selama ini sudah eksis," tutur Hendri. (ara/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed