Follow detikFinance
Rabu 29 Nov 2017, 16:36 WIB

Sri Mulyani Bidik Peluang RI Saat Ekonomi Dunia Lebih Cerah di 2018

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Sri Mulyani Bidik Peluang RI Saat Ekonomi Dunia Lebih Cerah di 2018 Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani cukup optimis terhadap pertumbuhan ekonomi dunia tahun depan. Pertumbuhan ekonomi dunia tahun depan diprediksi mencapai 3,6% atau sedikit lebih tinggi dari proyeksi tahun ini di bawah 3,5%.

Membaiknya pertumbuhan ekonomi dunia tahun depan disebabkan karena meningkatnya perdagangan internasional alias ekspor dan impor dan membaiknya harga komoditas.

"Untuk tahun depan perekonomian global diperkirakan akan tumbuh lebih kuat lagi yaitu 3,6%, namun yang lebih menarik dilihat adalah bahwa dengan makin kuatnya pertumbuhan ekonomi global ini dan didorong perekonomian negara-negara maju terutama Amerika, maka kita melihat bahwa volume perdagangan dan transaksi perdagangan antar negara sudah mulai agak pulih," ujar Sri Mulyani dalam acara 100 CEO Forum di Hotel Raffles, Jakarta Selatan, Rabu (29/11/2017).


Sri Mulyani menambahkan, volume perdagangan dunia di tahun mendatang meningkat hingga dua kali lipat. Potensi ini dapat dimanfaatkan Indonesia sebagai negara yang terlibat salam perdagangan internasional untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi di tahun depan.

"Ini menggambarkan bahwa kita sebagai negara ekonomi yang cukup mengandalkan mesin pertumbuhan ekonomi ekspor akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan pertumbuhan didorong dari mesin pertumbuhan ekspor ini," kata Sri Mulyani.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai sebagai tantangan ekonomi di tahun depan. Pertama adalah terkait politik global. Pemilihan kepala negara baru akan mempengaruhi kebijakan ekonominya dan ikut mempengaruhi Indonesia.


Selain itu, faktor demografi juga mempengaruhi perekonomian dunia. Banyaknya terjadi migrasi atau perpindahan penduduk ke negara lain menjadi sorotan.

"Ini yang kemudian timbul sentimen nasionalisme sehingga akan menular kepada policy perdagangan yang cenderung proteksionis," ujar Sri Mulyani.

China dan Amerika Serikat (AS) juga tengah melakukan normalisasi ekonominya, dengan cara mengurangi jumlah uang beredar dan menaikkan suku bunganya.

"Itu mereka bertahap kurangi kebijakan moneter yang sangat too loose dalam rangka menolong ekonominya pulih sesudah krisis ekonomi 2007-2008," tutur Sri Mulyani.


Pergerakan harga komoditas juga perlu terus diawasi untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi. Pergerakan harga komoditas dipengaruhi oleh kondisi cuaca suatu negara yang ikut mempengaruhi hasil komoditasnya.

"Biasanya climate change itu penting, itu hujan deras yang timbul banyak sekali tanah longsor, tapi hari ini dihadapkan dengan isu climate cange dari isu musim hujan musim dingin dan kemarau di berbagai dunia," kata Sri Mulyani. (ara/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed