Follow detikFinance
Jumat 12 Jan 2018, 11:59 WIB

RI Impor Beras 500.000 Ton, Harga Bisa Turun?

Trio Hamdani - detikFinance
RI Impor Beras 500.000 Ton, Harga Bisa Turun? Foto: Grandyos Zafna.
Jakarta - Pemerintah mengumumkan impor beras sebanyak 500.000 ton dari Thailand dan Vietnam gara-gara harga naik terus belakangan ini. Menurut Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal langkah termudah yang bisa dilakukan pemerintah menstabilkan harga beras memang impor.

"(Impor beras bisa menekan harga), bisa, karena kalau impor kan solusi paling gampang buat pemerintah menekan harga di tingkat konsumen," katanya saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Jumat (12/1/2018).

Keputusan impor diumumkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Kamis malam. Jalur impor dipilih karena pihaknya tidak ingin ambil risiko yang berujung terhadap kekurangan pasokan sehingga membuat harga beras semakin mahal.

Kemarin, Kamis (11/1/2018), pantauan detikFinance di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), pedagang menjual beras melampaui harga eceran tertinggi (HET). Beras medium yang semestinya Rp 9.450 per kg dijual Rp 12.000 dan beras premium yang semestinya Rp 12.800 menjadi di atas Rp 13.000.

Kata Enggar, beras yang diimpor berkualitas premium, namun akan dijual dengan acuan harga beras medium, dengan harapan harga beras medium di pasaran bakal turun.

Namun, Faisal menyarankan agar ke depan pemerintah mampu mengkaji lebih mendalam ketika memutuskan impor agar itu efektif menekan harga di pasaran dan konsumen tidak kalang kabut.

"Jadi mestinya dilihat dulu harga yang tinggi ini penyebabnya apakah permasalahan distribusi di dalam negeri atau kurangnya suplai. Kalai masalahnya adalah kurangnya suplai itu baru kemudian impor jawabannya," ujarnya.

Pemerintah harus mengambil keputusan cepat lantaran harga beras belum turun juga. Namun penyebab harga beras tinggi, tidak hanya dikarenakan suplai yang berkurang. Ada penyebab-penyebab lainnya yang perlu lebih dicermati oleh pemerintah misalnya terkait distribusi beras.

"Kalau permasalahannya adalah distribusi suplai, sebetulnya masih bagus ya sebetulnya, kebijakan impor salah berarti, salah kaprah. Jadi semestinya distribusinya yang diperbaiki (kalau itu penyebabnya). Kan biasanya permasalahannya di seputar itu ya," lanjut Faisal.

Masalah distribusi ini, lanjut dia biasanya karena adanya permainan dari tengkulak melakukan spekulasi harga. Kata dia, bagaimanapun petani masih bergantung kepada tengkulak. Hal-hal semacam ini yang bisa dimanfaatkan spekulan.

"Entah dia (tengkulak) membeli dengan murah dari petani kemudian dijual dengan harga mahal atau kemudian dilakukan spekulasi seperti penumpukan supaya nanti harganya naik baru dilepas ke pasaran," ungkapnya.


Menurut Faisal, hal-hal semacam itu masih kerap terjadi di Indonesia sehingga membuat harga beras tinggi sementara stok masih mencukupi kebutuhan konsumen.

"Jadi hal-hal seperti itu yang harus diklarifikasi atau diselidiki oleh pemerintah sebelum mengeluarkan kebijakan impor," tambahnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed