Follow detikFinance
Jumat, 12 Jan 2018 21:53 WIB

Cerita di Balik Keputusan Pemerintah Impor Beras 500.000 Ton

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Hasan Al Habshy Foto: Hasan Al Habshy
Jakarta - Pemerintah membuka keran impor beras khusus sebanyak 500.000 ton. Langkah itu diharapkan dapat menekan harga beras yang saat ini sedang melonjak tinggi.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, menjelaskan keputusan impor setelah melewati rangkaian operasi pasar hingga pembahasan dengan berbagai pihak.

"Langkah pertama yang kami lakukan dan sebenarnya bukan dilakukan baru, kita lakukan operasi pasar beras, itu kita lakukan sejak November-Desember. Tetapi hanya coba penetrasi ke market, artinya operasi tidak secara masif dijalankan. Hanya di daerah yang berpotensi rawan dari sisi konsumsi, Bulog masuk," kata Enggartiasto di Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Jumat (12/1/2018).


Operasi pasar yang dilakukan itu belum bisa memberikan hasil yang signifikan. Walaupun bisa menahan lonjakan, harga beras di pasar tetap tinggi. Bahkan hingga awal Januari ini harga beras kembali naik.

"Dampaknya tidak nendang. Tidak memberikan penurunan harga. Bahkan, memang sesaat terjadi stuck tidak naik, kemudian terjadi kenaikan sedikit, dan awal Januari terus meningkat secara tajam," jelas pria yang biasa disapa Enggar itu.

Menurut Enggar melonjaknya harga karena kurangnya pasokan beras medium. Kenaikan beras medium ikut mendorong lonjakan harga beras premium.



"Memang terjadi kekurangan atau kelangkaan beras medium, tapi dengan kenaikan beras medium ini juga mendorong naik beras premium," katanya.

Kemendag memperluas operasi pasar bersama Bulog di beberapa daerah yang harga berasnya tinggi. Namun tetap saja, langkah itu pun belum cukup mengerek harga beras turun. Alhasil, opsi terakhir diambil yaitu membuka keran impor beras.

Enggar mengaku sempat berdebat dengan pemangku kepentingan lainnya untuk mengambil keputusan impor. Namun, dia menegaskan, kebijakan impor memang harus cepat dilakukan, karena beras merupakan komoditi utama yang harus dijaga kestabilan harganya.


"Langkah lainnya yang saya lakukan, kita berdebat, tapi satu hal yang pasti bahwa beras adalah komoditi utama. Yang harus saya jaga adalah kepentingan konsumen," tuturnya.

"Political risk-nya terlalu beras, kalau supply beras kurang. Saya lakukan impor beras, jenis beras yang diimpor adalah yang tidak ditanam di Indonesia. Masuk dalam kategori beras khusus. Kita minta beras khusus ini masuk ke pasar dengan harga beras medium. Saya impor 500 ribu ton, dan yang kita tugaskan adalah PPI, BUMN," pungkasnya. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed