Follow detikFinance
Senin 15 Jan 2018, 17:55 WIB

Pengusaha NTT Ajak Saudi Kembangkan Pariwisata di Labuan Bajo

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Pengusaha NTT Ajak Saudi Kembangkan Pariwisata di Labuan Bajo Foto: (Lasti/d'Traveler)
Jakarta - Pengusaha properti di Nusa Tenggara Timur (NTT) menawarkan 10 pulau eksotis di kawasan Labuan Bajo untuk dikembangkan para investor asing dari Arab Saudi. Dalam presentasi yang dilakukan Konsultan Properti untuk PT Flores Today Indonesia Julius Slamet menawarkan beberapa pulau kecil untuk dijadikan resort, hotel serta destinasi wisata untuk dimiliki para investor dari Arab Saudi.

"Kami dari NTT terutama di Labuan Bajo lokasi kami di Indonesia timur, ini lokasi kami ada di sekitar Sumba, Labuan Bajo dan ada Flores, ini kami, di Labuan Bajo, bapak ibu bisa berinvestasi dan bisa memiliki pulau ini. Pulau ini dapat dimiliki oleh bapak, pulau ini sangat dekat dengan Komodo Island. Anda bisa memiliki pulau ini untuk resort," kata dia dalam presentasi The First Saudi Arabia Investor Forum, di Hotel Ritz Charlton, Jakarta, Senin (15/1/2018).

Dalam bahasan mengenai kepemilikan pulau di kawasan NTT, Direktur Utama PT Flores Today Rudi Sembiring Meliala menjelaskan, pihaknya memberikan keleluasan pada para investor asing untuk memiliki proyek resort dan hotel di 10 pulau tersebut.

"Lebih dari 10 (pulau) yang ditawarkan ke Arab, perlu investasi berkala untuk mengembangakan Labuan Bajo. Beberapa pulau available untuk resorts dan villa. Kalau dari sisi luas dan potensi bisnisnya luar biasa sekali untuk alam Flores dan Sumba ini juga terbuka sekali terbuka tidak terlalu primitif terbuka dari segi budaya menerima masyarakat luar (asing) juga cukup tinggi," papar dia.

Hingga saat ini kata Rudi, proses kepemilikan dengan adanya regulasi baru, para investor asing memiliki 75% kepemilikan wilayah atau pulau di Indonesia, sementara 25% sisanya harus berupa lahan terbuka hijau.

"Kalau di daerah Flores terdiri dari pulau keci itu masuk kategori eksotik, itu di atas kata menarik ya dan itu secara resmi diatur oleh UU. Pulau-pulau itu bisa dimiliki bisa dikelola menjadi objek wisata tidak semua pulau kecil itu hanya 75% total luas pulau sisanya harus milik negara. Kalau dulu itu (kepemilikan) hanya 25%," papar dia.

Di sisi lain, ternyata berbagai pulau di kawasan NTT sudah juga dikelola oleh beberapa investor asing. Rudi menjelaskan, kebanyakan di antara pulau-pulau tersebut dijadikan vila dan tempat peristirahatan.

"Pengembangan investasi itu lebih untuk lebih menjadi vila dan peristirahatan karena cukup tenang. 60% Australia, tapi ada juga Italia ada juga dari Jerman, Amerika, Belgia, Perancis, Jepang. Tapi paling banyak dari Australia dan mereka yang bangun vila dan restoran," kata dia.

Dirinya menjelaskan asing tetap tidak bisa memiliki lahan di Indonesia, kecuali mereka mengajak perusahaan lokal untuk bergabung dalam kepemilikan lahan di Indonesia.

"Kalau asing mereka kan harus under comppany yang sahamnya bercampur antara mereka dengan pribumi. Pengelolaannya berbentuk perusahan asing. Sistemnya kalau yang kepemilikan wilayah asing itu ada yang kontrak 20 tahun, banyak yang membeli lalu mereka jadikan resort sistemnya beli lahan," kata dia.

Seperti diketahui, para investor dari Arab Saudi hari ini menggelar dengan fokus industri real estate. Dalam acara ini sekitar 200 investor Arab Saudi dipertemukan dengan para pengusaha dan regulator di Indonesia.

Acara ini akan diselenggarakan guna menyajikan peluang investasi di bidang real estate di Indonesia kepada para pengusaha Arab Saudi.

Acara ini diinisiasi oleh Kedutaan Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Pemerintah Pusat Indonesia dan Pemerintah Khusus Ibu Kota Jakarta.

Selain membidik para investor baru di tahun 2018, pada April 2017 Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima kunjungan Raja Salman ke Indonesia selama 13 hari, Arab Saudi menjanjikan investasi Rp 89 triliun. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed