Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 19 Jan 2018 15:10 WIB

Panen di Kabupaten NTT Ini Capai Produksi 7.2 Ton/Ha

Niken Widya Yunita - detikFinance
Foto: Panen di Kabupaten di NTT (Dok. Kementan) Foto: Panen di Kabupaten di NTT (Dok. Kementan)
Jakarta - Kelompok Tani Tulus Karya yang berada di Desa Wae Mose, Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur menghasilkan 1.822 ton Gabah Kering Panen (GKP). Hal ini dibuktikan saat kunjungan Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur Pertanian, Ani Andayani.

Ani mengikuti panen bersama Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Kabupaten Manggarai Barat, Anggalinus Gapul. Dia didampingi Danramil Lembor, Babinsa, Penyuluh, perwakilan dari Bulog Sub Divre Manggarai dan sejumlah Petani pada Kamis (18/1/2018).

Tingkat provitas yang cukup tinggi dan ini menyamai provitas di Pulau Jawa yaitu 7,2 ton per hektare didapat dari varietas Ciherang dan IR 36 yang menjadi pilihan petani di Manggarai Barat. Bahkan di desa tetangga yaitu Desa Poco Rutang, Kecamatan Lembor provitasnya di beberapa lokasi mencapai 9,2 ton per hektare (ha) atau rata-rata di Kecamatan Lembor sebesar 7,8 ton per hektare.

 Panen di Kabupaten NTT Ini Capai Produksi 7.2 Ton Per HektareFoto: Panen di Kabupaten di NTT (Dok. Kementan)


Ani mengatakan, upaya khusus (upsus) swasembada pangan yang selama ini ditujukan untuk ketahanan pangan dan pada gilirannya menuju kedaulatan pangan, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para petani NTT. "Petani terus berupaya memperbaiki produksi dan produktivitasnya sehingga menyamai padi di Jawa," kata Ani dalam keterangan tertulis dari Kementan, Jumat (19/1/2018).

Koordinator penyuluh, Pius mencatat di Kecamatan Lembor Selatan ada lahan sawah irigasi teknis yang sudah IP 200 dan 300 karena ketersediaan air yang sudah lebih baik dari sebelumnya. Meskipun masih ada yang mengandalkan tadah hujan.

Sementara itu Anggalinus melihat keberhasilan ini pertama, petani memiliki kesepakatan di kelompok terkait benih yang akan digunakan, kapan ditanam, demikian juga untuk penyiapan saprodi dalam hal ini pupuk. Kemudian mereka disiplin soal waktu olah lahan, beri pupuk, penyiangan, pengendalian hama penyakit. Petani juga selalu didampingi penyuluh dan Babinsa di lapangan.

"Saya sering mengingatkan ke mereka untuk mencintai pekerjaan sama halnya mencintai anak sendiri. Saya pikir untuk membangun sistem pertanian melalui upsus bagus," kata Anggalinus.

Keberhasilan petani juga sebagai bentuk komitmen dan disiplin serta terjalinnya sinergi dengan TNI-AD.

Saat ini panen Januari untuk lahan seluas 253 hektare dengan produksi 1.821 ton dengan produktivitas hasil ubinan mencapai 7,2 ton per hektare. Pada Februari 2018 akan dipanen seluas 499 hektare dengan estimasi produksi sebesar 3.592,8 ton dan Maret 2018 yakni 1.290 hektare dengan estimasi produksi mencapai 6.708 ton. Karena pengalaman produktivitas pada Maret 2017 sedikit lebih tinggi yaitu mencapai 8 ton per hektare.

Anggalinus selaku Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Manggarai Barat, dalam upaya mempertahankan swasembada pangan, terus menjalin sinergi antar pihak di lapangan. Hal ini untuk menjaga stabilnya produksi dan produktivitas padi di kabupaten Manggarai Barat.

"Ada kawasan sawah Lembor seluas 5.000 hektare lebih berhimpit dilakukan sosialisasi regulasi terkaitnya. Hal ini agar tidak ada alih fungsi lahan dan berarti ketersediaan pasokan padi dari Manggarai Barat bisa terjaga baik pula," ucapnya.

Tingginya produksi padi GKP yang mencapai 7,2 ton per hektare menjadikan Kabupaten Manggarai mampu berswasembada. Bahkan surplus padinya bisa dikirim keluar daerah yang antara lain ke Manggarai, Sumba Timur, dan lainnya.

"Untuk Wae Mose saat ini kami panen 3 kali dalam setahun. Pangan untuk kami tidak menjadi persoalan karena kami mampu mencukupi kebutuhan kami," kata Kepala Desa Wae Mose, Karolus Matung. (nwy/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed