Follow detikFinance
Rabu, 07 Feb 2018 17:20 WIB

Ekonomi RI Tidak Cukup Hanya Tumbuh 5,07%, Ini Sebabnya

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2017 tercatat sebesar 5,07%. Angka ini berada di bawah target pemerintah di level 5,2%.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,07% tidak cukup. Pasalnya, kontribusi pertumbuhan ekonomi Indonesia setiap persennya hanya mampu berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja kurang dari 200.000 orang.

Artinya, jika ekonomi Indonesia tumbuh di level 5%, maka tenaga kerja yang berhasil diserap di 2017 kurang dari 1 juta orang. Padahal, jumlah angkatan kerja bertambah setiap tahunnya mencapai 2 juta orang.

"Persoalannya ekonomi kita dengan size besar ini dengan populasi di atas 265 juta itu dengan 1% hanya kurang dari 200.000 lapangan kerja. Sementara pertumbuhan angkatan kerja sudah 2 juta per tahun, maka enggak cukup. itu yang jadi persoalan," kata Enny dalam diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (7/2/2018).

Enny menambahkan, angka ini berbeda dari kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia di era orde baru. Kala itu, setiap 1% pertumbuhan ekonomi mampu menyerap hingga 450.000 tenaga kerja.

"Ini bukan hanya angka-angka statistik. Kalau tumbuh 5% tapi elastisitasnya seperti orde baru dulu 400.000-450.000 per 1% enggak masalah," ujar Enny.

Tren penyerapan oleh industri saat ini juga dinilai semakin kecil dengan adanya perkembangan teknologi. Sedangkan, industri padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja beberapa di antaranya pindah ke negara lain.

"Sementara padat karya tekstil pindah ke Vietnam, juga industri-industri hilir elektronik yang itu kan juga banyak menyerap tenaga kerja tapi relokasinya ke Malaysia ke Thailand onderdil-onderdil itu yang menyebabkan kita enggak bisa naif hanya melihat besaran angka," ujar Enny.

Membandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di level 5% dengan negara maju lainnya juga dirasa kurang pas. Jepang misalnya, negara di Asia ini sudah cukup dengan pertumbuhan ekonomi yang jauh di bawah Indonesia, tapi kualitasnya jauh lebih baik dari angka di atas kertas.

"Jadi memang yang disampaikan pemerintah enggak salah 5% ranking ketiga G20, tapi enggak apple to apple," tutur Enny.

Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas atau yang mampu memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakatnya adalah yang mampu menciptakan nilai tambah atas produk dalam negeri. Perkembangan industri terhadap penciptaan produk bernilai tambah tinggi perlu didorong lebih kuat lagi.

"Sektor-sektor tumbuh tidak banyak berikan nilai tambah, jasa semua impor. Teknologi komunikasi enggak semua kita punya, kalau kita beli gadget diproduksi di dalam negeri hanya casing saja yang di dalam negeri, nilainya rendah," uajr Enny.

Peneliti Indef Ahmad Heri Firdaus menambahkan, komponen lain yang perlu diperhatikan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan adalah kinerja ekspor. Ekspor Indonesia yang perlahan membaik perlu dijaga momentumnya dan bisa dijadikan motor penggerak selain konsumsi dan investasi.

"Komponen penting capai pertumbuhan tinggi adalah menggenjot kinerja perdagangan internasional," kata Heri.

Genjot Ekspor untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 2018

Kinerja ekspor Indonesia tahun ini bisa ditingkatkan guna mengejar target pertumbuhan ekonomi 5,4%. Pencapaian angka tersebut tidak mudah mengingat realisasi pertumbuhan ekonomi 2017 hanya sebesar 5,07% atau di bawah target 5,2%.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus mengatakan komponen ekspor menjadi hal yang tidak kalah penting harus diperhatikan guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi di tahun ini. Ekspor bisa menjadi komponen pelengkap pertumbuhan ekonomi tahun ini bersama dengan konsumsi rumah tangga dan investasi.

"Komponen penting untuk mencapai pertumbuhan tinggi dengan menggenjot perdagangan internasional. Mereka (negara lain) sangat mengandalkan sektor eksternal, perdagangan internasional sebagai mesin pertumbuhan ekonomi," kata Heri di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (7/2/2018).

Indonesia bisa belajar dari Vietnam bagiamana menggenjot ekspor yang kini bisa berada di atas Indonesia dalam peringkat dunia. Industrialisasi di Vietnam berkembang cukup baik dan mampu mengalahkan Indonesia yang dulu sempat unggul.

"Sangat berbeda yang dilakukan Vietnam. Dia kalau diranking seluruh dunia 21, ASEAN peringkat 2. Kalau Indonesia peringkat 30 dunia dan 5 di ASEAN," ujar Heri.

Bahkan, kontribusi ekspor terhadap PDB Vietnam sangat besar hingga 93%. Berbeda dengan Indonesia yang kontribusinya ke PDB di level 20%.

"Vietnam 93% ekspor ke PDB mereka. Indonesia masih berkutat di 20%," tutur Heri.

Peneliti INDEF, Andry Satrio Nugroho menambahkan, kehadiran industri juga bisa mengatasi kemiskinan dan mengurangi pengangguran. Kehadiran industri, khususnya padat karya bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

"Dengan adanya industri multiplier effect bisa menyelesaikan permaslahan pembangunan, bisa menyerap tenaga kerja, kemiskinan turun," ujar Andry. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed