Follow detikFinance
Minggu, 11 Mar 2018 16:38 WIB

Ini Cara Kementan Capai Target 1.000 Ekor Sapi Belgian Blue di 2019

Suci Rizqi Lestari - detikFinance
Foto: Sapi Belgian Blue (Dok. Kementan) Foto: Sapi Belgian Blue (Dok. Kementan)
Jakarta - Jumlah sapi indukan impor akan ditambah untuk melanjutkan kegiatan 'Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) dalam mempercepat peningkatan populasi sapi atau kerbau. Di samping itu, Kementerian Pertanian (Kementan) juga akan melakukan pengembangan sapi ras baru di Indonesia, yakni Belgian Blue.

Upaya tersebut dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan produksi daging sapi di Indonesia melalui peningkatan mutu genetik ternak. Program pengembangan sapi ras baru sendiri telah diuji coba pada 2017 dan mulai difokuskan pada 2018 ini.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menargetkan pada 2019 akan lahir anak/pedet sapi keturunan Belgian Blue sebanyak 1.000 ekor. Untuk mewujudkannya, Kementan melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan kesehatan Hewan juga telah menyusun road map untuk pengembangannya.

"Sapi Belgian Blue merupakan salah satu 'breed' baru yang masuk ke Indonesia dan juga merupakan salah satu sapi terbaik di Eropa yang berasal dari Belgia," kata Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH, Sugiono, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (11/3/2018).

Sugiono mengatakan itu saat peninjauan di BET Cipelang, Bogor, Sabtu (10/3/2018).



Ia menyampaikan, alasan dipilihnya Sapi Belgian Blue untuk dikembangkan secara khusus oleh Kementan. Sapi jenis Belgian Blue memiliki persentase karkas lebih tinggi (70-80%) dibandingkan sapi lainnya. Sehingga menurutnya, jika pengembangan sapi ini dilakukan melalui semen beku/embrio BB, maka akan jauh lebih murah dibandingkan memasukkan sapi hidup dari negara asalnya.

Lebih lanjut dia sampaikan, pengembangan sapi Belgian Blue dilakukan melalui teknologi Inseminasi Buatan (IB) dan Embrio Transfer (ET). Teknologi ini diawali dengan uji coba Impor pada 2015-2016 sebanyak 22 embrio dan semen beku 200 dosis di BET Cipelang Bogor secara tertutup.

"Sampai Maret 2018 kita telah berhasil melaksanakan kegiatan Transfer Embrio (TE) sebanyak 372 embrio dan dilahirkan 20 ekor sapi Belgian Blue melalui IB dari persilangan (simental, Limousin, dan FH). Hasil ET 3 ekor," ungkap Sugiono.

Sugiono menyebutkan, saat ini ada 10 ekor sapi dalam kondisi bunting dari hasil TE dan 36 ekor sapi bunting dari hasil IB. Di Balitnak Ciawi juga terdapat 4 ekor sapi bunting hasil TE.

"Sapi keturunan Belgian Blue yang merupakan hasil persilangan dengan bangsa lain dapat lahir dengan normal tanpa kesulitan melahirkan," ujarnya.


BET Cipelang pada 2017 juga telah melakukan Pelatihan Transfer Embrio kepada 30 petugas di 10 UPT terkait, pengadaan embrio sapi Belgian Blue 900 dosis, serta melakukan pengadaan semen beku Belgian Blue, embrio 900 dosis, dan pelatihan Caesar pada 2018.

Sugiono menegaskan, pengembangan sapi ras baru ini juga menjadi langkah kegiatan strategis pemerintah untuk keluar dari ketergantungan terhadap impor. Dengan adanya sapi pejantan unggul, maka akan dapat memenuhi kebutuhan donor di Balai Inseminasi Buatan Nasional/Daerah.

Kegiatan pengembangan sapi Belgian Blue saat ini lebih difokuskan di Unit Pelaksana Teknis Kementan, yaitu BBPTU-HPT Baturraden 250 ekor, BET Cipelang 179 ekor, BPTU-HPT Padang Mengatas 185 ekor, BPTU-HPT Sembawa 237 ekor, BBPP Batu-Malang 30 ekor, STTP Malang 17 ekor, BBPPKH Cinagara 14 ekor, STPP Bogor 7 ekor, STTP Magelang 25 ekor, Loka Penelitian Sapi Potong (Lolit) Grati 23 ekor, dan Balitnak Ciawi-Bogor 44 ekor.

Pengembangan sapi Belgian Blue mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 2011 tentang Sumber Daya Genetik Hewan dan Perbibitan Ternak mengenai rumpun baru yang masuk ke NKRI perlu mendapat rekomendasi dari Komisi Bibit Ternak. Oleh karena itu, pengembangan sapi Belgian Blue harus dilakukan dalam lokasi tertutup (close breeding) dan belum melibatkan masyarakat peternak.

"Kegiatan ini sudah tepat, karena untuk tahap awal lokasi pengembangan adalah di UPT-UPT lingkup Kementan sehingga belum melibatkan masyarakat peternak," ungkap Sugiono.

Sugiono mengatakan, selama periode 1 tahun ini Kementan telah melakukan berbagai pengkajian terkait pengembangan sapi Ras Baru ini. "Sebelum sapi jenis Belgian Blue ini dapat dilepas ke peternak, kami bersama Tim Pakar dari akademisi juga melakukan pengkajian," ungkapnya.

Lebih lanjut Sugiono menjelaskan, kajian ini dilakukan agar diketahui potensi dan performa sapi Belgian Blue dengan tepat, sebelum dikembangkan di masyarakat. Menurutnya, ada beberapa kelemahan dalam pengembangan sapi Belgian Blue yakni sering terjadi kesulitan melahirkan dan memerlukan tindakan sectio caesarea (SC) pada anak TE sehingga memerlukan manajemen pemeliharan dan pakan untuk mendukung metabolisme tubuhnya agar pertumbuhan otot dapat berkembang secara normal.

Selain itu, Sugiono mengatakan, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam upaya meningkatkan derajat kesuksesan dalam pengembangan sapi Belgian Blue. Apseknya meliputi pengetahuan dan keahlian (skill), metoda pemeliharaan dan penanganan pedet yang baru lahir-6 bulan, dan temperatur atau suhu yang cenderung lebih panas bila diperbandingkan dengan di tempat aslinya.

"Untuk itu, dalam pengembangan Sapi Belgian Blue ini Kementan telah membentuk Tim Sekretariat Kelompok Kerja (POKJA) dan Tim Pakar Pendamping, serta melibatkan Perguruan Tinggi (Institiut Pertanian Bogor dan Universitas Gadjah Mada) untuk mensukseskan pelaksanaannya," tutupnya.


(nwy/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed