Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 11 Mar 2018 19:13 WIB

Ingin Susul Vietnam, Kementan Genjot Produksi Kopi RI

Moch Prima Fauzi - detikFinance
Foto: Instagram @triawanmunaf Foto: Instagram @triawanmunaf
Jakarta - Pemerintah Indonesia memiliki keinginan untuk menambah jumlah produksi kopi. Untuk mencapai itu beberapa langkah dipersiapkan Kementerian Pertanian.

Dijelaskan oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman, saat ini Indonesia berada di urutan keempat sebagai penghasil kopi terbesar di dunia yang tadinya berada di posisi ketiga.

"Sekarang Indonesia urutan keempat (produsen kopi), dulunya urutan ketiga. Kalau bisa kembali ke urutan ketiga. Kuncinya kelembagaannya diperbaiki, kemudian akses perbankannya diperbaiki, produktivitas kita tingkatkan," ujar Amran usai menghadiri pengukuhan Dewan Kopi Indonesia di Tangerang, Minggu (11/3/2018).

Guna merealisasikan rencana tersebut, Amran mengaku akan melakukan pertemuan dengan 41 pengusaha kopi yang akan membahas soal akses perbankan, penyederhanaan rantai pasokan, hingga penyediaan 11 juta bibit kopi untuk tahun ini.

"Nanti kami panggil (pengusaha kopi) dan langsung MoU dengan perbankan. (Dibahas) Apa masalahnya pertama rantai pasokannya, akses perbankannya, biaya untuk petani kemudian pendampingan, bibit unggul," ujarnya.

"Bibit unggul kami siapkan. Itu perintah dari Bapak Presiden. Kami siapkan 11 juta bibit dengan pupuknya gratis tahun ini," lanjut Amran.

Selama setahun kemarin, kata Amran, Indonesia telah menghasilkan kopi sebanyak 700 ribuan ton dengan penghasilan 0,7 ton per hektare. Jumlah itu masih kalah dibandingkan dengan Vietnam yang sanggup menghasilkan 3 hingga 4 ton per hektare-nya.

Dengan jumlah lahan yang sama dengan Brasil yakni 1,7 juta hektare, dan jika tingkat produksi setara Vietnam, Indonesia bisa jadi negara penghasil kopi terbesar di dunia.

"Dulu Vietnam berguru di Indonesia, mereka sekarang produksinya 3-4 ton per hektare, kita masih 0,7 ton per hektare. Kalau ini kita angkat, sudah cukup. Karena luasan lahan kita sama dengan Brasil 1,7 juta hektare. Kalau diangkat 3 ton per hektare hingga bisa 6 ton, bisa menjadi nomor satu di dunia. Itu mimpi besar kita," ujar Amran.

Mengutip halaman Statista, pada 2017 Indonesia tercatat berada di urutan keempat sementara di atasnya ada Kolombia, Vietnam, dan Brasil di urutan pertama.


(nwy/zul)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed