Follow detikFinance
Selasa, 13 Mar 2018 19:38 WIB

Pengusaha Bantah Truk Jadi Biang Kerok Kerusakan Jalan Pantura

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Robby Bernardi Foto: Robby Bernardi
Jakarta - Pengusaha truk menampik menjadi sumber utama rusaknya jalan Pantai Utara (Pantura) Jawa. Sebab, ada faktor lain yang berkontribusi pada kerusakan jalan itu.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman mengatakan, truk berkontribusi sekitar 30% kerusakan Pantura. Kontributor kerusakan lain ialah kontruksi jalan dan drainase.

"Kalau ngomong truk penyebab kerusakan, memang kemarin data yang dikeluarkan Kementerian PUPR kita itu salah satu penyebab kerusakan tapi bukan utama. Kita hanya kontribusi sekitar 30% sekian. Tapi penyebab utama kerusakan, konstruksi dan drainase yang kurang bagus," kata dia kepada detikFinance, di Jakarta, Selasa (13/3/2018).


Dia mengatakan, saat musim panas jarang sekali ditemui jalan rusak di Pantura. Sebaliknya, saat musim hujan jalan di Pantura banyak yang rusak.

"Kalau musim panas kan kita jarang mengalami jalan rusak. Tapi kalau musim hujan kita sering mengalami jalan rusak. Apalagi kalau ngomong Pantura, drainase hampir nggak ada. Jalan dibuat nggak ada selokan kanan kirinya," paparnya.


Tetapi, pihaknya tak menampik banyaknya truk yang membawa muatan berlebih. Alhasil, kondisi tersebut memicu persaingan usaha angkutan barang.

Dia melanjutkan, perhitungan tarif angkutan barang di antaranya sopir, kendaraan (kredit/leasing kendaraan), administrasi, perawatan, dan bahan bakar minyak (BBM). Lanjutnya, kendati harga BBM stabil, namun komponen lain terus meningkat.

"Akhirnya yang jadi masalah ketika beban terus bertambah pendapatan nggak bisa naik, ya muatannya ditambah. Muatan ditambah ujung-ujungnya overload," ujar dia.

Kemudian, kelebihan muatan itu juga didukung oleh truk-truk yang didesain overload. Dia mengatakan, truk di Indonesia lebih berat dibandingkan negara lain.


"Truk di Indonesia jauh lebih berat di negara lain, saya bilang negara asalnya contohnya Jepang. Di Indonesia ini sekitar 11 ton untuk 3 sumbu, di Jepang itu paling 7-8 ton. Lebih ringan, daya angkutnya lebih tinggi," tutup dia.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Arie Setiadi Moerwanto mengatakan, jalan Pantura sering rusak karena dilewati oleh truk-truk yang kelebihan muatan.

"Jadi gini, problemnya satu, kita masih punya problem dengan kelebihan beban. Kalau tadi malam jalan itu kan, sebagian besar kan truk-truk dan semuanya oversize, overload," kata dia.

Arie menyebut mayoritas truk yang melintas Pantura mengalami kelebihan muatan. Bahkan, dia mengatakan sampai 70%.

Selain itu, dia menuturkan, jalan tersebut sering rusak karena tanahnya lunak. Sehingga, jalan rawan ambles.

"Dan kondisi ini lebih diperburuk lagi, karena di Pantura semuanya tanahnya endapan, tanah lunaknya dalam sekali, sehingga pondasinya nggak bisa firm kuat, dia turun terus, muka air tinggi," jelasnya. (zul/zul)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed