Follow detikFinance
Rabu, 04 Apr 2018 12:21 WIB

Ekonomi Digital Berkontribusi Rp 2.000 Triliun ke RI di 2025

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: istimewa Foto: istimewa
Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng mengatakan perkembangan teknologi Indonesia dalam sistem layanan keuangan telah berkembang pesat. Perkembangan teknologi berkembang sejak munculnya anjungan tunai mandiri atau ATM.

"Dalam konteks lainnya penggunaan teknologi layanan keuangan sudah digunakan mulai tahun 80-an, ATM hadir di Indonesia dengan layanan 24 jam. Menggantikan layanan konvensional ke bank," ujar Sugeng dalam Seminar Tren Ekonomi Digital: Era Transaksi Elektronik, Peluang dan Tantangan di Hotel Westin, Jakarta, Rabu (4/4/2018).

Mengutip data Mackenzie, menurut Sugeng, ekonomi digital Indonesia dapat berkontribusi sebanyak Rp 2.000 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di 2025.


"Bagi sebagian besar ekonomi, aspek digital berkontribusi berdampak pada PDB. Ekonomi digital diproyeksi bisa US$ 150 miliar (atau Rp 2.000 triliun, kurs Rp 13.500) bagi PDB Indonesia di 2025 dari data Mackenzie," sambungnya.

Ia memaparkan hal tersebut diprediksi karena beberapa hal, pertama pengguna internet Indonesia lebih dari 130 juta orang. Sedangkan yang aktif sebanyak 124 juta orang.

Selain itu, saat ini telah terjadi peningkatan akses internet sebanyak 39% dari rata-rata kecepatan akses 8,5 mbps menjadi 11 mbps.

"Terakhir besarnya porsi gen Y dan Z. Dan ini suatu bagus bagi perkembangan ke depan dan terus berkembang," jelasnya.


Selain peluang tersebut, Sugeng juga menyinggung terkait dengan tantangan ekonomi digital di mana sekarang terdapat cyber security.

"Tantangan utama yang perlu diwaspadai adalah cyber security yang akhir-akhir ini marak. Beberapa waktu belakangan terjadi di belahan dunia, misalnya ransomeware yang minta tebusan di bitcoin," ungkapnya.

"Kemudian kejadian pembobolan melalui swipe di bank sentral Bangladesh. Kita juga di bank di Malaysia dan serangan ransomeware di kota Atlanta oleh grup hacker dan minta tebusan," lanjutnya.


Tantangan kedua adalah fragmentasi industri. Saat ini masing-masing industri membuat inovasi teknologi digital tapi tidak terhubung satu sama lain. Ini menyebabkan inefisiensi dan menyulitkan masyarakat.

Contohnya, seperti kartu tol. Dulu hanya bisa pakai bank tertentu misal bank mandiri. Ada yg khusus bca saja. Sekarang semua bisa terkoneksi satu sama lain.

Sementara itu, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Ricky J Pesik mengatakan saat ini pertumbuhan ekonomi kreatif rata-rata berada di angka 4,5% hingga 5%.

Bahkan, di 2016 kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB nasional 922 triliun. Lantas, di 2017 pihaknya meyakini mampu berkontribusi lebih dari Rp 1.000 triliun. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed