Follow detikFinance
Selasa, 15 Mei 2018 13:57 WIB

RI Tekor US$ 5,7 Miliar Dagang dengan China, Barangnya Apa Saja?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Ilustrasi Foto: Jhoni Hutapea Ilustrasi Foto: Jhoni Hutapea
Jakarta - Neraca perdagangan Indonesia periode April 2018 tercatat mengalami defisit. Penyebab defisit terjadi karena tingginya impor yang berasal dari China, sementara ekspor ke negara Tirai Bambu itu turun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Selasa (15/5/2018), nilai impor nonmigas dari China periode Januari-April 2018 mengalami peningkatan yang signifikan. Mulai dari mesin atau peralatan listrik nilai impor tercatat US$ 13,91 miliar.

Untuk mesin atau pesawat mekanik tercatat US$ 3,17 miliar, besi dan baja US$ 2,91 miliar. Kemudian untuk plastik dan barang dari plastik sebesar US$ 653,75 juta.

Bahan kimia organik US$ 557,72 juta. Selain itu benda-benda dari besi dan baja US$ 440,93 juta. China juga mengimpor filamen buatan US$ 320,82 juta.


Kemudian juga ada kendaraan dan bagiannya sebesar US$ 312,43 juta. Alumunium juga menjadi barang impor non migas asal China sebesar US$ 290,6 juta. Terakhir bahan kimia anorganik dan lainnya sebesar US$ 283,15 juta.

Ini artinya total nilai impor non migas dari China ke Indonesia periode Januari - April 2018 sebesar US$ 4,44 miliar lebih tinggi dibanding periode Januari - April 2017 sebesar US$ 3,44 miliar.

Sekedar informasi, Neraca perdagangan RI pada April 2018 mengalami defisit US$ 1,63 miliar. Ekspor tercatat US$ 14,47 miliar, sementara impornya US$ 16,09 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan defisit terbesar adalah perdagangan RI dengan China yang mencapai defisit US$ 5,7 miliar.

"Jika dilihat perkembangan impor bulan ke bulan memang ada kenaikan. Jelang Lebaran impor kita memang cenderung naik, karena kebutuhannya meningkat," ujar dia.

Suhariyanto menjelaskan ekspor ke China tercatat mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena adanya situasi perdagangan dunia yang tak menentu. Selain itu ada kecenderungan China menahan laju produksinya.


"Harus diakui memang, situasi perdagangan tidak menentu ada kecenderungan China menahan produksi, karena itu permintaan terhadap barang ekspor dari Indonesia agak tertahan," ujar dia.

Dia menyebutkan periode April 2018, nilai ekspor Indonesia ke China tercatat US$ 1,8 miliar turun dari periode sebelumnya. Menurut Suhariyanto ini merupakan penurunan yang signifikan.

Untuk barang ekspor seperti mineral turun sekitar 45,4%, untuk besi dan baja turun 50% kemudian disusul penurunan ekspor lemak dan minyak hewan nabati.

"untuk China memang situasi perdagangannya agak susah ditebak, apalagi dengan banyaknya faktor eksternal, seperti perang dagang, suku bunga The Fed ini memang harus diantisipasi dengan baik," jelas dia.

Sekedar informasi, Neraca perdagangan RI pada April 2018 mengalami defisit US$ 1,63 miliar. Ekspor tercatat US$ 14,47 miliar, sementara impornya US$ 16,09 miliar. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan defisit terbesar adalah perdagangan RI dengan China yang mencapai defisit US$ 5,7 miliar.

"Jika dilihat perkembangan impor bulan ke bulan memang ada kenaikan. Jelang Lebaran impor kita memang cenderung naik, karena kebutuhannya meningkat," ujar dia.



Simak juga video "Bulan April, Neraca Dagang Indonesia Defisit US$ 1,63 Miliar": (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed