Follow detikFinance
Kamis, 24 Mei 2018 12:30 WIB

Di Depan Mahasiswa, Mentan Cerita Upaya Perlancar Bantuan ke Petani

Akfa Nasrulhaq - detikFinance
Foto: Prima Fauzi/BNR Foto: Prima Fauzi/BNR
Jember - Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, membagi pengalamannya saat berada di Kabinet Kerja sejak 2014 kepada para mahasiswa Universitas Jember. Amran bicara panjang lebar mengenai terobosan yang dilakukan dan capaian dalam memajukan teknologi pertanian.

Saat menjadi menteri yang mengurusi pangan tersebut, Amran pernah merombak regulasi terkait pengadaan. Menurutnya, mekanisme tender membuat bantuan sarana produksi kepada petani menjadi mubazir.

"Anggaran keluar Januari, empat bulan tender. Selesai panen, baru traktor jalan (diterima petani)," ujarnya saat memberikan kuliah umum 'Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045' di Kampus Universitas Jember, Jawa Timur, Rabu (23/5/2018).

Hal itu mendorongnya menemui presiden dan meminta regulasi pengadaan barang/jasa diubah. "Tikus tidak pernah katakan, tunggu dulu, pemerintah lagi tender," ucapnya.


Amran pun mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tujuannya agar penyimpangan dapat dihindari dan anggaran tak diselewengkan. Alhasil, Kementerian Pertanian berhasil memperoleh penghargaan anti gratifikasi.

Terobosan selanjutnya adalah meningkatkan alokasi anggaran langsung ke petani. Konsekuensinya, anggaran seminar, peresmian, pengadaan, dan uang perjalanan dinas alokasinya dicabut.

juga mendorong para peneliti pertanian, untuk lebih giat melakukan riset dan berinovasi. Alasannya, memajukan pertanian nasional serta meningkatkan kesejahteraan petani.

"Dulu, alokasi alsintan untuk petani 35%. Sekarang 85%. Kemudian deregulasi. Dulu izin pertanian tiga bulan, bahkan ada dua tahun, tiga tahun. Kami buat Satu Padu. Dalam satu jam selesai, bahkan cukup dari rumah," imbuhnya.

Selanjutnya, memaksimalkan lahan menganggur, seperti tadah hujan. Tujuannya, meningkatkan produksi dalam negeri serta merealisasikan visi lumbung pangan dunia 2045.

Kementerian Pertanian juga mengembangkan pertanian di daerah-daerah perbatasan sebagai lumbung pangan yaitu di Lingga, Belu, Malaka, Merauke, dan Entikong. Dengan begitu, mempermudah ekspor pangan, khususnya ke negeri jiran. Harga pangan juga mulai stabil.

"Sebelum Jokowi-JK, harga beras per kilogram Rp 50 ribu sampai Rp 80 ribu di Merauke. Hari ini Rp 8.000," bebernya.


Amran mengungkapkan, banyak capaian terukir buah dari terobosan tersebut. Misalnya, berhasil menutup keran impor beras dan jagung. Bahkan, sudah diekspor ke berbagai negara, termasuk bawang merah.

"Dalam sejarah pertanian 72 tahun, kita tembus ekspor ayam ke Jepang," lanjutnya.

Dari berbagai pengalaman tersebut, Amran menekankan terkait peran mahasiswa sebagai generasi muda dalam memajukan pertanian berbasis teknologi, sehingga diharapkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.

Sementara itu, Rektor Universitas Jember, Moh Hasan, berharap, Kementerian Pertanian konsisten melakukan modernisasi pertanian, memaksimalkan lahan sub optimal, dan upaya-upaya lainnya. Apalagi mengingat pangan bakal menjadi persoalan besar saat pemerintah tak bisa memenuhi kebutuhan penduduknya.

"Masalah pangan tidak lepas dari masalah kependudukan," kata Hasan. (idr/idr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed