Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 06 Jun 2018 21:05 WIB

Utang BUMN Rp 4.800 T, Kementerian: Mari Dilihat Secara Terbuka

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kementerian BUMN/Foto: Ardan Adhi Chandra/detikFinance Kementerian BUMN/Foto: Ardan Adhi Chandra/detikFinance
Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memberikan penjelasan terkait masalah utang BUMN. Utang dari BUMN disebut menembus Rp 4.800 triliun.

Deputi Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana Prasarana Perhubungan (KSPP) Kementerian BUMN Ahmad Bambang mengatakan, utang tersebut mesti dilihat secara jernih.

"Jadi kita inginkan marilah dilihat secara terbuka. Terakhir ini muncul berita, kita buka apa adanya, jangan sampai dipelintir, kemarin di DPR dan hari ini muncul berita serem-serem," kata dia di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (6/6/2018).


Sebab, utang itu juga termasuk liabilitas BUMN termasuk bank, asuransi, hingga dana pihak ketiga (DPK).

"Utang BUMN Rp 4.800 triliun, ini dari liabilities sudah dianggap utang aja. Liabilities ada 143 utang, BUMN kan ada perbankan, insurance, DPK masuk di situ nggak dipilah mana utang beneran, mana DPK, mana yang utang pemerintah dan sebagainya," ujarnya.

Sementara, enam BUMN besar tercatat memiliki utang (liabilities) Rp 291,7 triliun pada kuartal I 2018 atau tumbuh 68% dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 173,2 triliun. Keenam BUMN itu, yakni PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Hutama Karya (Persero), dan PT PP (Persero) Tbk.

Dia mengatakan, utang tersebut mesti dibandingkan dengan kinerja BUMN. Dia menerangkan, pada kuartal I-2018 aset enam BUMN tercatat Rp 385,47 triliun atau tumbuh 53% dibanding kuartal I tahun sebelumnya Rp 251,25 triliun.

Kemudian, labanya naik 92% dari Rp 1,59 triliun menjadi Rp 3,07 triliun. Tahun ini, laba BUMN itu ditargetkan tumbuh 30% dari raihan tahun 2017 Rp 11,79 triliun.

"Dengan laba besar kita dorong karya untuk investasi lebih cepat. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, kita tahu dulu di-drive oleh konsumsi, ini tentu investasi punya peran sangat penting men-drive pertumbuhan ekonomi nasional," jelasnya.


Lebih lanjut, utang berdasarkan laju pertumbuhan majemuk tahunan (compound annual growth rate/CAGR) dari tahun 2014 diproyeksi tumbuh sebesar 54,05% pada tahun 2018 menjadi Rp 353,80 triliun.

Meski begitu, aset enam BUMN juga diproyeksi tumbuh 53,29% menjadi Rp 470,69 triliun dari Rp 100,24 triliun. Laba dari tahun 2014 sebesar Rp 3,78 triliun diproyeksi tumbuh 36,68% menjadi Rp 13,29 triliun.

"Laba meningkat dengan CAGR, sekarang kumulatif enam karya di atas Rp 11,7 triliun (laba tahun 2017) hampir Rp 12 triliun. Targetnya (tahun 2018) Rp 13,2 triliun, tapi realisasi Rp 3 triliun (kuartal I 2018) kali empat. Triwulan I biasanya paling malas, kalau triwulan I Rp 3 triliun saya yakin 2018 di atas Rp 14 triliun biasanya gitu, lebih dari Rp 14 triliun," ujar dia. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed