Follow detikFinance
Senin, 09 Jul 2018 19:17 WIB

Semester I-2018, Sri Mulyani Ramal Ekonomi RI Tumbuh 5,1%

Hendra Kusuma - detikFinance
Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menko Maritim Luhut Panjaitan di Istana Bogor. Foto: Rengga Sancaya Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menko Maritim Luhut Panjaitan di Istana Bogor. Foto: Rengga Sancaya
Bogor - Di tengah ketidakpastian global, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan ekonomi nasional bakal tumbuh 5,1% di semester I-2018.

Hal tersebut juga telah dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada saat rapat terbatas (ratas) mengenai realisasi dan prognosis APBN 2018 di Istana Bogor, Senin (9/7/2018).

"Pelaksanaan semester I APBN kita mengalami ada beberapa hal yang memberikan perubahan dari sisi penerimaan dan belanja. Dari sisi makro ekonomi, pertumbuhan semester I diperkirakan 5,1%," kata Sri Mulyani.

Dia mengungkapkan, kinerja APBN 2018 selama enam bulan pertama di tahun ini berjalan dengan baik. Mulai dari sisi penyerapan belanja maupun penerimaan negara.

Untuk sisi penerimaan, dia bilang, sampai semester I-2018 kinerja penerimaan perpajakan sampai semester I yang berasal dari PPh non migas tumbuh 14,9% sedangkan PPh migasnya tumbuh 9%. Untuk bea dan cukai pun tumbuh 16,7% atau menjadi penerimaan tertinggi sejak 3 tahun terakhir.

Selain itu, sisi PNBP dengan nilai rupiah terhadap dolar AS yang melamah pun membuat penerimaannya cukup tinggi, di mana tumbuh 47,9%.

Sedangkan dari sisi belanja, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menyebut bahwa realisasi belanja kementerian/lembaga (K/L) sudah mendekati 35% sedangkan belanja non K/L mencapai 43,9%.


Dengan penerimaan dan belanja tersebut, maka angka defisit anggaran mengalami penurunan, hal itu juga terlihat dari keseimbangan primer yang surplus Rp 10 triliun dari yang sebelumnya defisit Rp 68 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

Sri Mulyani juga memperkirakan untuk keseluruhan penerimaan di 2018 akan mencapai Rp 1.903 triliun atau lebih tinggi Rp 8,3 triliun dari yang sebelumnya ditetapkan yakni Rp 1.894 triliun. Sedangkan belanja negara penyerapannya sampai akhir tahun sekitar 95-96% atau mencapai Rp 2.217,3 triliun kurang Rp 3,4 triliun dari yang dianggarkan Rp 2.220,7 triliun.

Dengan begitu, sampai akhir tahun ekonomi Indonesia akan tumbuh di level 5,2%.

"Kita perkirakan di semester II sekitar Rp 14.200 secara rata-rata (kurs). Harga minyak sudah mencapai di atas US$ 70 yaitu US$ 73, dan dari sisi growth adalah 5,2%," tutup dia.

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed