Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 16 Jul 2018 15:51 WIB

Pemerintah India Bahas Penurunan Tarif Bea Masuk Sawit Asal RI

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Agus Setyadi/detikcom Foto: Agus Setyadi/detikcom
Jakarta - Asosiasi pengusaha sawit asal India, Solidaridad Network Asia Limited (SNAL) mengungkapkan saat ini pihaknya sedang membahas penurunan tarif bea masuk produk kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) asal Indonesia dengan pemerintah India.

Managing Director SNAL, Shatadru Chattopadhayay mengatakan pembahasan soal tarif bea masuk produk minyak sawit itu cukup alot. Sebab, produk minyak sawit asal Indonesia mesti bersaing dengan produk minyak asal India lainnya.

"Diskusi saat ini sedang berjalan. Tapi ini bukan diskusi yang mudah karena CPO bukan satu-satunya komoditas, ada petani India juga yang memproduksi minyak biji-bijian lainnya," ungkapnya di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (16/7/2018).

Lebih lanjut, ia menilai penurunan tarif bea masuk tersebut nantinya juga tidak akan membuat harga komoditas minyak biji-bijian lainnya menjadi lebih mahal ataupun lebih murah. Oleh karena itu, pemerintah dinilai akan menimbang kebijakan tersebut.

Dengan diturunkannya tarif bea masuk produk kelapa sawit asal Indonesia ke India, maka pengusaha dalam negeri akan lebih mudah untuk mengekspor produk minyak sawitnya. Hal itu merupakan keuntungan bagi Indonesia.


"Jika Anda menurunkan tarif itu akan membuat komoditas lain seperti rapeseed, dan mustard lebih mahal, dan tidak lebih murah. Jadi pemerintah mencoba menyeimbangkan (tarif bea masuk CPO)," sambungnya.

Selain itu, kata dia, India merupakan negara pertama yang telah mengakui standarisasi produk kelapa sawit Indonesia atau Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sehingga ke depannya diharapkan bisa diakui sebagai standar internasional.

Lebih dari itu, dia mengaku akan membahas hasil pertemuan dengan pemerintah Indonesia ini, kepada pemerintah India sebagai langkah membahas penurunan tarif bea masuk produk sawit.

"Diskusi ini adalah diskusi yang akan terjadi, karena telah ada keputusan untuk membentuk komite gabungan antara IPOS dan ISPO di mana masalah ini akan dibahas sehingga secara kolektif kami dapat meneruskan rekomendasi

(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed