Follow detikFinance
Jumat, 14 Sep 2018 12:46 WIB

Target Ekonomi RI Tumbuh 5,4% Dinilai Tak Realistis

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Pemerintah sempat menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun ini 5,4%. Menurut Guru Besar Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono target tersebut tidak realistis.

"Saya sudah lama bilang 5,4% itu tidak realistis. Tidak mencerminkan kondisi paling mutakhir," kata Tony kepada detikFinance, di Jakarta, Jumat (14/9/2018).


Menurut Tony pada saat penyusunan target asumsi dasar makro ekonomi 2018 pemerintah ragu-ragu karena gejolak ekonomi global yang tidak bisa diprediksi. Dia mencontohkan perkembangan ekonomi dunia yang sulit diprediksi adalah harga minyak dunia.

Harga minyak diproyeksi US$ 48 per barel, ternyata melesat ke US$ 70 per barel. Selain itu nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang melemah, dan rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau Federal Reserve yang lebih agresif, serta perang dagang AS dengan China.


"Krisis Turki juga agak di luar dugaan, dan menambah sentimen negatif," kata Tony.

Tony menambahkan keputusan pemerintah memangkas target pertumbuhan ekonomi menjadi 5,2% terlambat.


"Pemerintah termasuk agak lambat merevisi target pertumbuhan ekonomi, yang mestinya sudah disadari bahwa 5,4% tidak akan tercapai. Proyeksi terbaru sekitar 5,1-5,2% menurut saya jauh lebih kredibel dan achievable," tutur Tony.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pertumbuhan ekonomi 2018 akan berada di level 5,14-5,21%.

"Sepanjang 2018 kami memproyeksikan pertumbuhan 5,14 - 5,21, ini based line di 2018," kata Sri Mulyani di ruang rapat Komisi XI DPR, Jakarta, Kamis (13/2018). (hek/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed