Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 25 Sep 2018 12:38 WIB

Tapal Batas

Ini Sem, Satpam Perbatasan RI-Papua Nugini yang Jago Bahasa Asing

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Muhammad Idris Foto: Muhammad Idris
Skouw - "I am originally Papua. Do you want to use the Indonesian language or the English language?"

Mungkin, tak banyak yang mengira kata-kata itu keluar dari mulut seorang petugas keamanan di wilayah perbatasan. Namanya Semuel W Ansanay, putra asli Papua. Biasa dipanggil Pak Sem. Dia sangat fasih berbahasa Inggris, kalau bicara casciscus lancarnya.

Memiliki wajah khas Papua, badan yang tegap, dengan rambut yang cepak, begitu ciri-ciri Semuel. Selain mahir berbahasa Inggris, Semuel juga memiliki wawasan umum yang cukup luas. Dia cukup paham tentang sejarah bangsa, hingga isu-isu yang sedang berkembang.

Sebelum menjadi seorang petugas keamanan, Semuel juga sempat bekerja di pemerintah daerah (Pemda) setempat. Dia mengaku sempat terlibat untuk mengurus Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PMPN) di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Itu program dari Pak SBY, program itu diterjemahkan dalam bentuk rencana strategis pembangunan. Dulu saya mengurus itu. Saya juga aktif di gereja," kata Semuel kepada detikFinance.

Kini, Semuel bertanggungjawab menjadi seorang petugas keamanan di Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dia ditempatkan di fasilitas money changer Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw yang berbatasan dengan Papua Nugini.

Semuel bercerita, kemampuannya berbahasa Inggris didapat dari keluarganya. Sejak kecil dia mengaku sudah terlatih bahasa Inggris. "Memang latar belakang orang tua saya didikan dari Belanda. Keluarga kami itu hal yang biasa," katanya.

Karena kemampuannya itulah Semuel juga akhirnya direkomendasikan pihak PLBN untuk bekerja di BRI perbatasan. Dia mengaku belum lama bekerja di sana. Belum ada setahun.


Semuel termasuk orang yang cukup mudah diajak mengobrol. Sekali diajak bicara atau ditanya, dia bisa menjawab dan menjelaskan dengan panjang lebar jawabannya itu. Contohnya saat ditanya mengenai tempat tinggalnya. Dia menjawab dengan panjang lebar, mulai dengan menjawab alamat rumah, hingga jarak dari rumahnya ke tempat kerja.

Semuel mengaku bekerja di wilayah perbatasan merupakan hal yang sensitif. Dia bilang, selama bekerja di wilayah tapal batas negara harus pintar-pintar menempatkan diri dalam permasalahan sosial yang ada di sana. Sebab, di sana bukan hanya diisi oleh orang Indonesia, namun juga banyak didatangi orang-orang dari Papua Nugini.

"Di situ ada banyak yang melewati, mulai dari masyarakat Indonesia sendiri, masyarakat asli Papua, suku asli tapal batas, dan orang asing yang melintas dari berbagai negara. Meskipun kuotanya belum terlalu banyak," katanya.

"Jadi di sana ada hukum nasional, hukum internasional, dan status adat juga yang berlaku. Itu yang mempengaruhi situasi dan kondisi. Jadi cukup sensitif," tambahnya.


Lebih dari itu, Semuel mengaku cukup bangga bisa bekerja di BRI perbatasan dalam menjaga kedaulatan rupiah. Terlebih dengan aktivitas ekonomi yang cukup pesat di perbatasan saat ini, menjaga kedaulatan rupiah penting dilakukan. Sebab, di sana mata uang yang digunakan tidak hanya rupiah, namun juga mata uang Papua Nugini.

Semuel yang termasuk bagian dari orang-orang yang hidup di lingkungan Tapal Batas juga mengaku bangga akan hadirnya sejumlah infrastruktur di wilayah perbatasan. Menurutnya, saat ini wilayah perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini sudah dibangun dengan megah. Lebih elok dibanding perbatasan negara tetangga.

"Pos lintas batas Skouw ini kan sudah dibangun dengan megah. Di situ juga ada Pasar Skouw yang sedang dibangun. Jadi kondisi di wilayah perbatasan, termasuk ekonominya sudah cukup maju. Kita jelas bangga dengan itu semua," tuturnya.

Simak terus cerita-cerita dari kawasan terdepan Indonesia di Tapal Batas detikcom. (fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed