Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 11 Okt 2018 23:05 WIB

Kunjungi Pelabuhan Perikanan di Bali, Susi Sampaikan Pesan Ini

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi PudjiastutiFoto: Grandyos Zafna Menteri Kelautan dan Perikanan Susi PudjiastutiFoto: Grandyos Zafna
Jembrana - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengunjungi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan, Jembrana, Bali pada Rabu (10/10). Dalam kegiatan tersebut Susi melakukan dialog dengan nelayan sekitar dan menyaksikan langsung proses bongkar muat hasil tangkapan nelayan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nilanto Perbowo, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Zulficar Mochtar, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja, Bupati Jembrana I Putu Artha, dan Wakil Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan.


Susi mengaku senang melihat tangkapan ikan masyarakat sekitar yang melimpah. Tangkapan itu umumnya terdiri dari tongkol, cakalang, lemuru, dan ikan layang, di mana tongkol menjadi primadona.

Dalam dialog bersama Susi, nelayan mengungkapkan, saat ini memang tengah musim panen ikan. Dalam sehari, nelayan-nelayan di PPN Pengambengan dapat menangkap 100 hingga 150 ton ikan tongkol.

"Saya sangat senang dengan panen yang sangat besar, (ada) ikan tongkol, ikan lemuru, dan lain-lain di pelabuhan Pengambengan ini. Saya berharap, inilah foto realita yang seharusnya ada di semua pelabuhan-pelabuhan. Dengan dibasminya illegal fishing, masyarakat merasakan hasilnya sekarang (ikan melimpah)," kata Susi dalam keterangan tertulis Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kamis (11/10/2018).


Meskipun demikian, Susi tak menampik bahwa masih banyak kendala yang ditemui nelayan untuk menikmati panen ikan yang berlimpah ini.

"Tadi nelayan mengeluh solar susah, padahal kan masa panen ikan terbatas. Nanti mungkin saya akan rapat konsolidasi meminta di musim panen ikan itu kecukupan solar harus dijaga," lanjutnya.

Tak hanya perkara ketersediaan stok bahan bakar, Menteri Susi juga menerima aduan dari masyarakat mengenai harga ikan di musim panen yang turun drastis. Ikan tongkol misalnya, sebelum musim panen nelayan menjualnya dengan harga Rp15.000 per kilogram. Namun, beberapa waktu belakangan hanya dihargai Rp9.000 per kilogram, bahkan Rp6.000 per kilogram untuk yang berukuran kecil.

"Saya pikir itu terlalu rendah (harga beli tongkol). Mestinya bisa bertahan di Rp10.000 ke atas. Sekitar Rp10.000 - Rp 15.000," ungkapnya.


Oleh karena itu, menurut Menteri Susi business process pelelangan ikan harus dibenahi sebagaimana mestinya. Selama ini, proses pelelangan ikan yang seharusnya dilakukan secara terbuka masih dilakukan secara tertutup.

"Sistem tertutup itu rawan kecurangan, manipulasi, dan kompromi. Jadi akhirnya harga ke nelayan sangat rendah. Solusinya kita memikirkan sistem pelelangan yang lebih baik, mengundang lebih banyak pembeli, atau kita membuat badan usaha pemerintah apakah BUMN, BUMD, atau koperasi yang dikelola pemerintah bersama masyarakat nelayan itu sendiri untuk menjadi seperti Bulog beras untuk menjaga batas harga bawah," Menteri Susi menerangkan.

Ia berpendapat, restrukturisasi pelelangan dan penampungan ikan perlu dilakukan agar para bakul ikan, pengusaha, ataupun tengkulak tak lagi bisa mempermainkan harga ikan dari para nelayan.

"Pelelangan ikan ini sebenarnya adalah suatu inisiatif untuk membuat harga ikan lebih kompetitif bagi nelayan dan memberikan kesempatan bagi semua pembeli untuk datang dan bisa beli. Memangkas monopoli. Tapi yang namanya bisnis selalu rawan kompromi, kongkalingkong, dan sebagainya," lanjutnya.

Tak kalah penting, masyarakat juga mengungkapkan perihal uang hasil penjualan ikan yang tidak dibayarkan langsung. Kadang nelayan baru menerima bayaran setelah 3 bulan. Untuk itu, Menteri Susi berencana menggandeng Perum Perindo dan PT Perinus untuk menanggulangi persoalan pembayaran tunai ini, karena menurutnya pembayaran tunai sangat dibutuhkan untuk memperbaiki ekonomi masyarakat.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Zulficar Mochtar mengatakan akan segera mencarikan solusi atas aduan nelayan sehingga mereka dapat merasakan manfaat ekonomi yang besar dari kelimpahan ikan di laut.

"Produksi perikanan Pengambengan tahun 2018 ini meningkat pesat dibanding tahun lalu, di mana per 26 September 2018 saja, sudah 55% lebih banyak dibandingkan total seluruh penangkapan ikan tahun 2017 yang didaratkan di Pengambengan. Oleh karena itu, manfaat ekonominya harus dimaksimalkan," ujarnya.

Tak hanya tiga hal tersebut, KKP juga telah melakukan berbagai upaya lain untuk terus mendorong geliat bisnis perikanan yang menguntungkan nelayan kecil. KKP telah melakukan pengerukan 119.000 kubik dan memperdalam kolam pelabuhan sehingga memudahkan kapal-kapal untuk keluar masuk pelabuhan. KKP juga akan mengupayakan penambahan breakwater di mulut kolam sehingga dapat efektif mengantisipasi sedimentasi.

Usai melakukan dialog dengan nelayan, Menteri Susi memimpin peluncuran Aplikasi Laut Nusantara dan Wakatobi AIS hasil pengembangan BRSDM KKP. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Susi juga menyerahkan secara simbolis bantuan 3 paket Inovasi Laut Nusantara bagi nelayan. Terakhir, Menteri Susi bersama rombongan meninjau pembangunan Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana. (hns/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed