Follow detikFinance
Jumat, 12 Okt 2018 14:09 WIB

Investasi Teknologi Jadi Prioritas Utama Tingkatkan Daya Saing UKM

Robi Setiawan - detikFinance
Foto: shutterstock Foto: shutterstock
Jakarta - Berdasarkan hasil studi ASEAN SMEs: Are you transforming for the future? oleh United Overseas Bank (UOB), Ernst & Young (EY), dan Dun & Bradstreet (DNB) dipaparkan usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia memandang investasi teknologi sebagai salah satu prioritas utama untuk meningkatkan daya saing bisnis.

Studi tersebut juga menemukan bahwa hampir satu dari dua (48%) UKM Indonesia menyadari pentingnya lebih banyak berinvestasi dalam bidang teknologi untuk mendorong kinerja bisnis.


Selain itu, 58% UKM Indonesia yang disurvei mengatakan bahwa mereka lebih memilih untuk mengelola biaya dengan meningkatkan produktivitas daripada mengurangi gaji karyawan (15%). Peningkatan produktivitas dapat melalui pelatihan karyawan, otomatisasi, penggunaan teknologi yang lebih canggih, dan penyederhanaan proses bisnis.

"UKM Indonesia menganggap penting investasi dalam hal teknologi dan menggunakannya sebagai sarana untuk meningkatkan produktivitas. Efisiensi biaya yang lebih baik dari penggunaan teknologi akan mendorong pertumbuhan bisnis," kata Country Head Business Banking PT Bank UOB Indonesia (UOB Indonesia) Paul Kan dalam keterangannya, Jumat (12/10/2018).


Terkait hal itu, Paul mengungkapkan bahwa UOB Indonesia berkomitmen untuk membantu UKM dalam mengembangkan bisnis. Oleh sebab itu, UOB Indonesia berfokus dalam memberikan solusi yang tepat untuk membantu memenuhi kebutuhan bisnis, mengatasi tantangan, dan memperdalam kemampuan kepada nasabah UKM.

"Sebagai contoh, kami didukung oleh Bisnis Internet Banking Plus (BIBPlus), yang dapat membuat nasabah mengelola kebutuhan perbankan mereka dan melakukan transaksi secara online dengan menggunakan perangkat mobile. Kenyamanan menggunakan UOB BIBPlus membantu nasabah mengurangi waktu dan lebih efisiien dalam mengelola bisnis mereka," ungkapnya.

Pandangan Pertumbuhan yang Optimis

Lebih lanjut, studi ini juga mengungkapkan bahwa Indonesia adalah negara kedua dari 6 negara disurvei yang memiliki pandangan optimis akan adanya pertumbuhan pendapatan di 2018.

Sebanyak 63% UKM memandang bahwa pertumbuhan pendapatan akan tetap terjadi di tahun ini meskipun berada di tengah tantangan ekonomi global, seperti meningkatnya biaya dan lambatnya produktivitas.

Sementara UKM Vietnam adalah yang paling optimis akan adanya pertumbuhan pendapatan tahun ini (67%). Terkait hal ini Direktur DNB Indonesia Krisantus Veni Calix mengatakan bahwa optimisme datang dari lingkungan bisnis yang semakin kondusif.

"UKM diharapkan memperoleh efisiensi lebih lanjut dari 16 paket reformasi ekonomi pemerintah yang telah dilaksanakan dan buat peraturan untuk mendorong inovasi, seperti Program Start-up Incubator," kata Krisantus.

Dia menyebut pemerintah telah menyediakan UKM Indonesia proses aplikasi perizinan bisnis yang lebih efisien, insentif pajak, akses yang lebih luas ke kredit, rantai pasokan global, serta peluang pertumbuhan bisnis yang lebih besar.

"Selain itu, konsumsi swasta Indonesia yang stabil dan penurunan jumlah kebangkrutan diharapkan dapat menstabilkan lingkungan kredit," sambungnya.

Sebagai informasi, UKM telah menjadi salah satu sektor paling strategis karena menyumbang lebih dari 50% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Study ASEAN SMEs: Are you transforming for the future? dilakukan pada akhir 2017 terhadap lebih dari 1.200 UKM di enam negara ASEAN terbesar yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Studi ini dilakukan untuk memahami UKM ASEAN memposisikan diri untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan kawasan dan untuk beradaptasi dengan perubahan di depan mata.





Tonton juga 'Tinggalkan Cara Lama, Kini Ada UKM Online':

[Gambas:Video 20detik]

(mul/mpr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed