Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 06 Nov 2018 22:52 WIB

Bulog akan Impor 50.000 Ton Jagung, Peternak: Belum Tentu Cukup

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Jagung/Foto: Enggran Eko Budianto Jagung/Foto: Enggran Eko Budianto
Jakarta - Rapat koordinasi di Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian, Jumat (2/11), memutuskan impor 100.000 ton jagung untuk pakan ternak. Menurut Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, Perum Bulog yang ditugaskan mengimpor jagung memasok sekitar 50.000 ton.

"Ini baru mau impor 50 ribu (ton) oleh Bulog. Itu pun pemerintah yang impor bukan dilepas. Kalau mungkin harga turun, nggak mungkin dikeluarin. (Ini) sebagai alat kontrol saja," kata Amran di Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (6/11/2018).


Pertanyaannya, cukupkah pasokan jagung 50.000 ton itu? Sekretaris Jenderal Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), Atung, mengatakan 100 ribu ton saja belum mencukupi kebutuhan hingga akhir tahun, apalagi hanya 50 ribu ton.

"Buat Blitar saja belum tentu cukup. Sebenarnya, kalau 100 ribu ton masih lumayan ibarat haus terus minum tapi nggak memuaskan tetapi kalau 50 ribu ton, Blitar saja mungkin habis," kata Atung kepada detikFinance, Selasa (6/11/2018).


Atung menambahkan pemerintah akan mengimpor 100.000 ton, namun para peternak tetap menyerap jagung lokal karena jumlah 100.000 ton itu tak akan cukup sampai akhir tahun.

"100 ribu ton juga nggak bisa sampai akhir (memenuhi kebutuhan). Itu kita juga harus ambil dari lokalan juga jagungnya kok," Atung.

Dia berharap jagung impor segera masuk sehingga bisa segera menekan harga jual jagung. Saat ini harga jagung untuk pakan ternak bergerak di kisaran Rp 5.500-Rp 5.600/kg.

(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed