Follow detikFinance
Kamis, 08 Nov 2018 19:10 WIB

DPR Sebut Target Keja Sama dengan Selandia Baru Capai Rp 40 T

Nabilla Nufianty Putri - detikFinance
Foto: DPR Foto: DPR
Jakarta - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan peningkatan kerja sama ekonomi, perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Selandia baru sangatlah penting. Kedua negara tersebut sama-sama menginginkan kerja sama yang terjalin, mampu menghasilkan hubungan yang saling menguntungkan.

Di tahun 2024 nanti, dia mengatakan ditargetkan perdagangan bilateral Indonesia dan Selandia Baru mencapai Rp 40 triliun atau sekitar US$ 2,9 miliar.

"Saat ini ekspor Indonesia ke Selandia Baru terus meningkat. Pada tahun 2017, total ekspor Indonesia ke Selandia Baru sebesar US$ 437,8 juta. Sementara, total ekspor Selandia Baru ke Indonesia pada tahun 2017 sebesar US$ 751,1 juta. Untuk mencapai target perdagangan senilai US$ 2,9 miliar di tahun 2024, diperlukan kerja sama yang lebih baik lagi antar kedua negara," ujar Bamsoet, dalam keterangan tertulis, Kamis (8/11/2018).


Saat bertemu Komite Pembangunan Ekonomi Parlemen Selandia Baru, di Gedung Parlemen Selandia Baru di Wellington, dia menuturkan, kerja sama di bidang ekspor nonmigas dari Indonesia ke Selandia Baru sempat terjadi pasang surut.

"Sementara, untuk ekspor nonmigas dari Selandia Baru ke Indonesia juga mengalami penurunan sebesar 3,35% dari US$ 696,2 juta pada 2012, menjadi US$ 660,9 juta pada 2016. Di tahun 2017, kinerja impor tersebut meningkat 13,66% menjadi US$ 751,2 juta. Kita harapkan nilai ekspor kedua negara bisa terus meningkat di tahun mendatang," ungkap Bamsoet.


Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menegaskan, Indonesia terus berupaya membuka akses pasar Selandia Baru agar menerima berbagai komoditas unggulan Indonesia. Saat ini, Selandia Baru telah menerima komoditas buah tropis dari Indonesia seperti manggis, salak hingga kopi.

"Indonesia melihat peluang masuknya buah tropis dari Indonesia ke Selandia Baru masih sangat terbuka. Kami berharap buah-buahan tropis dari Indonesia seperti mangga, nanas ataupun pisang dapat segera diekspor ke Selandia Baru," jelas Bamsoet.

Lebih lanjut, Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menuturkan Indonesia dan Selandia Baru perlu mendorong rencana investasi yang sudah ada. Kedua negara telah berkomitmen agar sejumlah proyek yang telah diputuskan dapat diimplementasikan sesegera mungkin.

"Sejak tahun 2010 hingga tahun 2015, tercatat realisasi investasi Selandia Baru di Indonesia sebesar US$ 32,2 juta. Dari jumlah tersebut yang terealisasi sebesar 7% di industri makanan. Sementara di tahun 2017, nilai investasi Selandia Baru di Indonesia sebesar US$ 15 juta pada 73 proyek. Kami harap angka investasi ini dapat meningkat di tahun berikutnya," papar Bamsoet.

Politisi Partai Golkar ini menambahkan, di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Indonesia saat ini sedang mengembangkan kebijakan Poros Maritim Dunia. Kebijakan yang menempatkan Indonesia sebagai poros kerja sama maritim di antara negara-negara yang terletak di kawasan Indo-Pasifik.

"Kami harapkan Selandia Baru turut menyukseskan program Indonesia tersebut dengan melakukan investasi di bidang kelautan. Terlebih, belum lama ini Selandia Baru memperoleh penghargaan negara terbaik dalam penanganan sumber kelautan secara berkelanjutan," harap Bamsoet.

Diketahui, pada tahun 2012, ekspor nonmigas dari Indonesia ke Selandia mencapai USD 366 juta. Namun, pada tahun 2016 terjadi penurunan sebesar 1,62% menjadi USD 357,5 juta. Beruntung, di tahun 2017, nilai ekspor Indonesia ke Selandia Baru mengalami kenaikan sebesar 15,32% menjadi USD 412,4 juta.

Dalam pertemuan tersebut hadir Duta Besar Republik Indonesia untuk Selandia Baru Tantowi Yahya, Ketua Fraksi PAN DPR RI Mulfachri Harahap, Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI Mukhamad Misbakun dan Ahmadi Noor Supit. Kemudian, Anggota Fraksi Nasdem DPR RI Akbar Faisal, Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Masinton Pasaribu serta Staf Khusus Ketua DPR RI Yorrys Raweyai dan Yahya Zaini.

Sementara dari Komite Pembangunan Ekonomi Parlemen New Zealand, hadir Ketua Komite Pembangunan Ekonomi Jonathan Young. Turut serta anggota Komite Melissa Lee, Andrew Falloon, Lawrence Yule, Tamati Coffey, Liz Craig, Simeon Brown dan Nicola Willis. (mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed